Our Nation – Our Life

Buddhism, Indonesia, Society, Mindful Living

Relakskan Tubuh dan Batinmu

Posted by ET on October 26, 2008

Relakskan Tubuh dan Batinmu

(Ceramah Retreat Hari ke-1)

YM Ch’an Master Sheng Yen

 

 

 

Kesulitan lain yang akan kalian hadapi semuanya adalah harapanmu terhadap apa yang akan diperoleh dari retreat ini. Saya yakin kalian semua memiliki tujuan pribadi dan pengharapan dari latihanmu. Sekarang saya beritahu kalian untuk melupakannya. Semua itu tidaklah nyata. Disini kamu untuk latihan. Inilah tujuanmu; tujuan yang sudah kamu peroleh. Sekarang kamu harus melanjutkan untuk membuatnya menjadi nyata. Letakkan tujuan dan harapan angan-anganmu pada pemikiran masa lalu dan mendatang.

 

 

Ceramah pagi [hari  pertama]

 

          Ini adalah pagi pertama retreat intensitf tujuh hari. Mungkin beberapa diantara kalian datang untuk pertama kali di sini. Mungkin, tadi malam sebagian kalian tidak dapat tidur nyenyak. Kalian berada dalam lingkungan yang berbeda, dan kebisingan jalan New York yang tidak pernah berhenti. Barangkali kalian merasa gelisah atau terlalu khawatir akan apa yang terjadi selama retreat ini berlangsung. Semua hal ini adalah normal. Kamu akan beradaptasi – menyesuaikan diri, dengan sendirinya, namun untuk dapat beradaptasi mungkin butuh 3 hari, mungkin lebih. Relakslah. Disamping keadaan lingkungan dan psikologimu, kamu juga harus menggunakan tubuhmu untuk berjuang dalam lingkungan dan psikologimu. Kebanyakan dari kalian akan mengalami sakit pada kaki dan punggung. Sekali lagi, saran saya adalah relakskan dirimu.

 

          Baik tubuh maupun batinmu akan beradaptasi dengan cepat apabila kamu tidak berusaha melawan situasi, hanya jika kamu merelakskan dirimu dalam situasi. Buatlah suatu komitmen kuat untuk fokus, tinggalkan pemikiran masa lalu dan akan datang di luar pintu sana. Kamu bisa dan pasti bisa, kembalilah dengan persoalanmu segera setelah retreat ini berakhir, tapi saat ini hal-hal itu akan merintangani latihanmu. Dan kamu ke sini adalah untuk berlatih. Batinmu harus selaras dengan metodemu. Ketika munculnya pikiran liar (pikiran-pikiran yang muncul, berkembang dan lenyap saat meditasi: mengembara, melayang) yang tidak dapat dihindari, janganlah mengikuti pikiran itu. Kenali pemikiran itu dan kembalilah ke metode [latihan]. Tahu bahwa saat kamu mengidentifikasi pikiran liar itu seperti apa, maka kamu sudah tidak dalam pemikiran liar itu. Jika kamu dapat melakukan hal ini, saya jamin kamu tidak akan gelisah terhadap pemikiran yang liar.

 

          Agar latihan menjadi sukses, kamu harus merelakskan tubuh dan batinmu. Untuk melakukannya, tetapkan dirimu agar tidak memperhatikan sensasi dari pikiran dan tubuh, nyata sekaligus khayalan. Lebih mudah mengatakannya daripada melakukannya, namun jika kamu dapat melakukanya dan benar-benar fokus pada metodemu, kemudian waktu akan berlalu dengan cepat. Dari sisi lain, jika kamu larut dalam kondisi pikiran dan tubuhmu,  maka waktu akan terasa lambat dan dirimu akan mengalami banyak penderitaan.

 

          Kesulitan lain yang akan kalian hadapi semuanya adalah harapanmu terhadap apa yang akan diperoleh dari retreat ini. Saya yakin kalian semua memiliki tujuan pribadi dan pengharapan dari latihanmu. Sekarang saya beritahu kalian untuk melupakannya. Semua itu tidaklah nyata. Disini kamu untuk latihan. Inilah tujuanmu; tujuan yang sudah kamu peroleh. Sekarang kamu harus melanjutkan untuk membuatnya menjadi nyata. Letakkan tujuan dan harapan angan-anganmu pada pemikiran masa lalu dan mendatang. Latihan seperti bekerja untuk mendapatkan gaji.  Jika semua perhatianmu kamu fokuskan pada gaji bulan depan, efektivitas kerjamu akan berkurang. Kamu bisa saja dipecat. Dan juga, sadari bahwa kerja hanya menghasilkan cek [gaji] jika pekerjaan telah selesai. Jadi, topik untuk hari pertama ini adalah relaks – tubuhmu dan batinmu.  Berikan tubuhmu pada bantal meditasi dan pikiranmu pada metode. Istirahat akan terjadi dengan sendirinya.

 

 

Ceramah sebelum sarapan [hari pertama]

 

          Ada empat landasan kegiatan harian yang mempengaruhi latihanmu. Saya menggabungkan dua yang pertama secara bersama, yang dinamakan kerapian dan kebersihan. Ketika kita menjaga lingkungan yang bersih dan teratur, itu akan mempengaruhi batin yang buyar (tidak fokus) menjadi berkurang. Lingkungan yang kotor dan tidak rapi mungkin sekali menambah kegelisahanmu dan menganggu latihanmu. Inilah mengapa saya meminta kalian selama retreat ini menjaga tempatmu agar teratur. Saya minta kalian untuk menumpuk gulungan kasurmu di atas sehingga tidak terlihat bahwa ini merupakan tempat tidur. Ketika meditasi duduk, letaklah barang berhargamu antara bantal meditasi dengan orang di sebelahmu, tidak di depan atau di belakangmu. Ketika kamu bangkit dari meditasi duduk, lipatlah handukmu dengan rapi dan taruhlah di atas bantal meditasi [berbentuk] lingkaran, dan letakkan bantal meditasi [berbentuk] lingkaran pada bantal meditasi [berbentuk] persegi. Sewaktu berjalan, dengan inisiatif ambillkah apa saja sampah kecil yang mungkin kamu temukan pada lantai.

 

          Kerapian hendaknya juga diterapkan selama waktu makan. Selesai makan, taruhlah mangkok di atas piring bersama sendok atau sumpitmu di sebelah kanannya. Tinggalkan tempatmu dengan bersih. Gunakan handuk kecil untuk membersihkan muka dan tanganmu dan juga meja di depanmu. Bersihkan mangkok dan piringmu dengan air minum dan kemudian minumlah air tersebut. Keringkan mangkok dan piringmu dengan  handuk kecil dan taruhlah sampah kecil yang tersisa, seperti kulit buah, di mangkokmu. Jika bahkan kita tidak dapat menjaga lingkungan dan tempat kita tetap bersih, bagaimana kita dapat berharap membersihkan batin kita? Tatanan lingkungan yang bersih membantu menentramkan pikiran dan secara positif mempengaruhi latihan kita.

 

          Landasan ke tiga adalah menjaga kedamaian [tenang]. Setiap gerakan kita harus menunjukkan suasana damai. Tatkala kita dapat menjaga kedamaian dan kelembutan dalam tingkah laku kita, secara alami kita sedang membangkitkan landasan ke empat – keharmonisan – dalam interaksi kita dengan yang lain. Untuk benar-benar hidup harmonis dengan orang lain, seseorang harus terlebih dahulu harmonis dengan dirinya sendiri. Batin yang harmonis tidak tercemar oleh kontradiksi dan gejolak diri. Bila kita dapat damai dengan diri kita sendiri, maka kita secara mudah dapat harmonis dengan orang lain dan lingkungan. Bahkan ditengah-tengah kesulitan, kita hendaknya mencoba menjaga ketenangan di dalam diri kita dan berusaha untuk harmonis dengan yang lain. Di retreat ini, kamu memiliki kesempatan untuk berusaha menjaga lingkunganmu bersih dan batinmu damai. Untuk melakukannya, fokuslah pada pikiranmu. Inilah sumber dari segalanya. Jangan terlalu memperhatikan latihan dan tingkah laku orang lain. Berlatihlah untuk dirimu dan biarlah orang lain untuk berlatih.

 

 

Ceramah Sore [hari pertama]

 

          Ada beberapa cara seseorang dapat bermeditasi pada pernafasan. Pertama adalah perhatian penuh pada proses bernafas; yakni menyadari panjangnya nafas atau gerakan yang halus pada perut. Untuk mempertahankan kesadaran ini, janganlah berusaha mengontrol ritme (panjang-pendek) nafasmu atau gerakan perutmu. Hanya menyadari hubungan nafas dan perut. Pembatasan metode ini, walaupun membuat kamu merasa stabil dan menyenangkan, ini membuat kamu kesulitan untuk pindah melampau poin ini. Inilah mengapa biasanya saya menyarankan kamu pada metode menghitung nafas. Ketika menghitung, jangan berkonsentrasi pada perutmu atau panjang-pendeknya nafasmu. Sebaliknya, bernafaslah dengan normal, dan ketika nafas keluar, fokuslah pada angka 1 [satu]. Pertahankan kesadaranmu pada angka 1 [satu] hingga nafas keluar yang selanjutnya, dan kemudian hitung 2 [dua]. Lalukan hal ini dengan diam (hitung dalam ‘hati’) hingga 10, dan mulai kembali.

 

          Sewaktu menghitung, pikiran liar akan muncul secara alami. Manfaat dari metode ini adalah kamu akan melihat pikiran liar datang-pergi dengan cepat, asalkan kamu dengan efisien menyadari untuk kembali pada metode [latihanmu]. Kapan saja kamu menyadari bahwa kamu kehilangan hitunganmu dan terseret dalam pikiran liar-mu, kembalilah pada nafasmu dan mulai lagi dari 1 [satu]. Lakukanlah ini selama meditasi duduk. Kadang-kadang pikiranmu buyar [goyah] sehingga kamu tidak mendapatkan hitungan ke 10, atau kamu mengulang suatu angka terus menerus, atau kelebihan menghitung.  Jika hal ini yang terjadi tanpa perkembangan, cobalah mengikuti alternatif menghitung yang lain : Hitunglah mundur angka genap dari 20 ke 2 (hal sama, hitung angka selanjutnya setiap nafas keluar), dan kemudian hitunglah mundur angka ganjil dari 19 ke 1. Karena metode ini membutuhkan konsentrasi yang lebih, biasanya metode ini mengurangi pikiran yang buyar. 

 

          Ada tiga hal penting yang diperlukan untuk menggunakan metode konsentrasi dengan tepat.

1. Lepaskan pikiran intelektualmu

2. Tumbuhkembangkan kesabaran; dengan kata lain, relakskan pikiran dan perasaanmu.

3. Setelah memperoleh postur tubuh yang tepat, relakskan tubuhmu.

 

          Tubuh maupun batin yang tegang berefek menggangu latihan. Ini menyebabkan perlawanan, yang selanjutnya menyebabkan kamu merasa letih; dan kamu tidak dapat fokus pada  metode [latihan] -mu jika kamu merasa letih. Belajar untuk merelakskan tubuh dan batinmu, serta mempersilahkan tubuhmu pada bantal meditasi dan batinmu pada metode, merupakan landasan dasar untuk melakukan meditasi yang efektif.

 

 

Sumber :

http://www.chan1.org/ddp/talks/day1-m.html

Seven-days Retreat Talk (Day 1)” by Ven Master Sheng Yen

Diterjemahkan dari “Seven days Retreat Talk” (28 Nov – 5 Dec 1992)

Hari I – 28 Nov 1992 di Ch’an Meditation Centre, Elmhurst – New York

Dipergunakan untuk khusus kepentingan pribadi

Advertisements

Posted in Buddhist Master | Tagged: , , , | 1 Comment »

Meditasi dan Non Meditasi – Dharma Talk I

Posted by ET on October 26, 2008

Yang Mulia Yongey Mingyur Rinpoche

Meditasi dan Non Meditasi – Dharma Talk I

Halifax Shambhala Center, Nova Scotia Canada, January 27, 2004

 

Selamat sore semuanya.

Tashi Delek. Selamat pagi. Mungkin selamat malam. Wilayah tertentu di Kanada, siang hari berlangsung selama 6 bulan dan 6 bulan selanjutnya akan mengalami malam hari. Maka, penggunaan phrasa “selamat pagi” dan “selamat malam” tidak selalu dapat dipergunakan. Jadi “selamat untuk kondisi apapun”

 

Shamatha

 

Malam ini kita akan membicarakan meditasi untuk berdiam dalam keningan atau shamatha (skt). Topik dari seri ajaran ini adalah “Meditasi dan Non-meditasi,” dan judul ini tampak sebagai dua hal yang berlawanan satu sama lainnya. Namun, jika kita benar-benar memahami apa sesungguh meditasi itu, kita akan melihat keduanya sama.

 

Bahasa Tibet untuk berdiam dalam keheningan atau shamatha adalah shi-ne. Suku kata pertama adalah shi, bermakna menjadi tenang. Apa artinya “menjadi tenang”? Artinya kita tidak mengontrol pikiran[1] normal kita, pikiran yang menderita dan pikiran yang berperilaku seperti seekor monyet liar. Shi merujuk pada menenangkan pikiran kita – kita mengambil kendali batin kita dan menenangkan kualitas-kualitas yang buruk seperti pikiran yang liar.

 

Suku kata ke-dua, ne, berarti berhenti/diam atau beristrahat. Ini adalah cara untuk mengambil alih pikiran agar dapat melakukan tujuan apapun yang kita inginkan. Jika kita ingin agar pikiran kita menjadi tenang, pikiran menjadi tenang; dan jika kita menginginkan pikiran kita berpikir sesuatu, maka pikiran akan melakukannya. Kita telah benar-benar mengendalikan pikiran kita. Inilah apa yang disebut ne.

 

Kita berbicara tentang apakah kita mengambil kendali atau memberi kebebasan terhadap pikiran kita. Kita mungkin bertanya, apakah hal biasa bila kita mengontrol ataupun memberikan kebebasan pada pikiran kita?

Tidak, ini sama sekali bukan mengontrol maupun membebaskan. Meskipun kita ingin agar kita tidak marah, tapi kita tetap jadi marah. Meskipun kita tahu bahwa kemarahan itu tidak baik, tapi kemarahan tetap muncul.  Hal yang sama, kita tidak ingin sedih atau depresi, kita tidak ingin pikiran kita jadi tegang, namun semua itu tetap terjadi.

Persoalannya adalah pikiran kita menciptakan masalah-masalah yang awalnya pikiran itu tidak bermasalah.

 

 

Pikiran Monyet 

 

Jika kita membawa seekor monyet liar di sini dan melepaskannya berkeliaran, ada dua hal yang akan dilakukannya:

1. Monyet itu akan menciptakan pekerjaan untuk kita yang semestinya tidak perlu ada pekerjaan.

2. Monyet itu akan menciptakan masalah yang semestinya tidak perlu ada masalah.

 

Monyet itu akan menciptakan kekacauan yang semestinya tidak perlu ada kekacauan. Ia akan datang mendekati altar dan merobek lukisan Buddha serta memporak-porandakan semua persembahan. Ia akan menurunkan semua ornamen di altar dan memberantakkan semua bantal meditasi, dan melemparnya ke sembarang tempat.

Namun sebenarnya monyet tersebut tidak perlu melakukan semua itu. Jauh lebih baik jika monyet itu masuk dan duduk dengan nyaman di atas bantal meditasi dan ia hanya perlu relaks saja di sana. Jika monyet itu sedikit merasa haus, ia dapat pergi ke altar dan minum air; cukup tersedia di sana. Terlepas dari semua itu, sesungguhnya monyet itu tidak perlu melakukan semua itu.

 

Hal yang sama terjadi pada pikiran kita. Batin kita mudah tersinggung pada masalah yang sangat kecil; masalahnya hanya kecil dan kita bawa masalahnya menjadi sangat besar dan kita menjadi lebih tegang terhadap masalah itu. Kenapa hal ini terjadi?

Ini terjadi karena kita mengekang diri dengan persepsi kita sendiri, dan juga karena kita tidak tahu bagaimana untuk bisa relaks. Selama ceramah saya tentang cinta kasih dan welas asih, saya mengilustrasikan bagaimana penempatan cangkir sebagai landasan kita membuat masalah kecil menjadi masalah besar.

 

Ketika bekerja, kita terikat pada masalah kecil dalam pekerjaan kita, dan masalah ini menguras semua perhatian kita sehingga kita menjadi lalai terhadap masalah besar. Ketika belajar, bila pikiran kita terlalu dicengkeram oleh pandangan-pandangan yang kita miliki sekarang, kita tidak akan mampu belajar dengan sangat baik karena tidak ada ruang lagi untuk menerima informasi baru. Ketika kita menyetir mobil, kita selalu berpikir orang di depan kita dan bagaimana cara kita untuk menyalipnya, serta terus berpikir bahwa waktu yang ada semakin mendesak. [Rinpoche memperagakannya sebagai orang yang begitu cemas dan tergesa-gesa]. Jika kita menyetir dengan sikap itu, maka kita akan rentan sekali mengalami kecelakaan; kita akan membelokkan mobil kita yang semestinya tidak harus kita belokkan dan waktu perjalanan menuju tempat tujuan pun akan bertambah lama.

 

Contoh lainnya; bagaimana kita bereaksi ketika melihat wajah kita sendiri. Banyak orang yang begitu hanyut dalam perasaan, dan menjadi begitu tegang melihat wajah mereka sendiri. [Rinpoche memperagakan kembali]. “Wajah saya harus bagus.” Kita melihatnya dengan begitu tegang dan membawa pikiran kita ke dalam cermin. Meskipun tidak ada yang salah pada wajahmu, namun jika kamu melihatnya dengan sikap seperti ini dalam tempo yang lama, alhasil kamu akan menemukan ada sesuatu yang salah di wajahmu. Kamu akan menemukan bahwa hidungmu sedikit bengkok, atau pipi kiri lebih besar daripada pipi kanan, atau hal-hal lain sejenisnya. Dan kamu akan merasa sedih dan tidak nyaman terhadap itu,  dan akan lebih memokuskan hal ini menjadi sebuah “masalah”. Ditinjau dari segi persepsimu sendiri, “kekurangan” ini akan menjadi lebih besar, lebih besar dan lebih besar lagi. Setelah sebulan kamu melakukannya,  ketika kamu bercermin melihat dirimu dan kamu akan berpikir, “Hidungku benar-benar tidak lurus,” meski sebenarnya tidak bengkok. Kamu akan merasa sangat malu dengan dirimu, dan kamu tidak mau keluar dimana ada orang melihatmu. Bahkan, mungkin kamu akan berhenti berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain karena kamu berpikir bahwa semua orang akan memperhatikan hidungmu yang bengkok, meskipun sesungguhnya mereka tidak memerhatikannya.

 

Walapun semua ini sama sekali tidak benar, dari persfektif persepsi kita sendiri, kita akan melihat diri kita sebagai seseorang yang tidak menarik, dan pada saat itu pikiran kita akan membuat berbagai masalah yang mana sebelumnya tidak ada masalah sama sekali. Kita harus mengerti bahwa inilah yang terjadi pada diri kita. Jika kita mengerti, inilah yang disebut sebagai pengetahuan benar, atau prajna [skt].

Begitu banyak hal serupa yang terjadi dalam pikiran kita dan tidak ada alasan baik untuk selain kejadian ini daripada menjadi kreasi dalam pikiran kita. Namun, kita selalu percaya pada pemikiran kita dan berpikir bahwa pemikiran kita adalah 100% benar.

Persepsi dibuat oleh pikiran, pikiran meyakini proyeksi dari pikiran sehingga ini menjadi siklus mata rantai. Inilah cara kerjanya, pikiran menjadi percaya pada persepsinya yang dibuatnya.

 

 

Batin yang Fleksibel

 

Ketika kita bermeditasi berdiam dalam keheningan, atau shamatha, kita membuat batin kita menjadi lebih fleksibel, dan dengan cara itu kita mendapatkan kontrol itu. Kita membawa kekuatan pada batin kita, seperti olahraga. Jika kita berolahraga dan juga mengonsumsi vitamin-vitamin, hasil yang akan diperoleh adalah tubuh kita menjadi sehat kuat secara alami. Bila kekuatan tubuh ini secara alami terbentuk dalam tubuh kita, maka penyakit yang sedang kita derita saat ini akan pergi dengan sendirinya dan tubuh sehat kita akan membantu mencegah timbulnya penyakit di masa mendatang.

 

Pendekatan olaharaga dan mengonsumsi vitamin ini jauh lebih baik daripada kita mengonsumsi obat ketika kita sakit, karena, sebagai contoh, jika kita makan obat untuk menyembuhkan penyakit yang berhubungan dengan paru-paru, obat ini dapat membebani hati dan ginjal kita. Jika kita makan obat untuk menyembuhkan ginjal, itu juga dapat menggangu bagian (organ) tubuh kita lainnya – obat-obatan dalam jangka panjang tidak membawa daya tahan dan kekuatan tubuh alami. Padahal daya tahan dan sehat alami sangat penting bagi tubuh. Begitu juga mengapa kita berlatih shamatha, berdiam dalam keheningan: untuk membangun kemampuan dan kekuatan yang menjadi bagian utama pada batin kita.

 

Lebih lanjut, ketika kita berlatih meditasi jenis ini, kita membangkitkan apa yang disebut sebagai “kedamaian batin”, kedamaian sejati yang tidak bergantung pada sebab dan kondisi eksternal. Jika kita berusaha untuk memperoleh kedamaian dengan bergantung pada sebab eksternal, maka usaha ini mirip dengan upayamu mengonsumsi obat agar dengan cepat sembuh dari penyakitmu.

 

Jika kita tiba-tiba terluka karena jatuhnya cangkir, dan mampu mengatasi situasinya, maka hal ini dapat membuatmu kembali merasa nyaman dalam tempo singkat. Tapi, jika cangkir itu membuat hancur, maka cangkir ini menyebabkan kita begitu menderita. Jika kita bermain GameBoy atau hiburan yang sejenisnya, untuk sementara waktu hal ini akan membuat kita senang.  Tapi, jika kita terlalu melekat pada permainan ini, maka permainan ini dapat menjadi penyebab penderitaan kita ketika alat permainan ini rusak, dan kerusakan sebuah benda merupakan fenomena alami karena benda merupakan unsur dari fenomena.

 

Inilah alasan-alasan umum mengapa berlatih meditasi, shamatha begitu penting. Sangat penting untuk kita mengerti alasan-alasan umum ini sebelum kita belajar untuk mempraktikkannya.

Sebagai contoh, jika kita ingin menembak, kita perlu mengetahui apa dan di mana sasaran tembaknya. Jika tidak, kita tidak dapat mengarahkan peluru kita. Dalam hal latihan shamatha, ada 2 (dua) hal pokok : kunci utama pada tubuh dan kunci utama pada pikiran.

 

 

Tubuh dan Pikiran 

 

Pada langkah awal dari tahapan meditasi, ketika kita tidak dapat mencapai realisasi level tinggi, tubuh dan pikiran kita saling berhubungan satu sama lainnya dalam hal dukung dan mendukung. Tubuh kita berfungsi untuk mendukung pikiran kita, dan begitu sebaliknya tubuh kita didukung oleh pikiran kita.

 

Jika kita bandingkan pandangan ini dengan apa yang ditemui oleh ilmuwan modern saat ini, akan ditemukan kesamaan.

Dalam Buddhisme, kita berbicara mengenai 3 (tiga) sifat berbeda yang menjadi unsur halus dari tubuh fisik, unsur yang berhubungan dengan meditasi kita. Ketiga unsur itu disebut sebagai prana (kanal), windu (energi halus), dan bayuchi atau angin.

Ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai neuron, gelombang otak dan sel.

  Neuron ini serupa dengan prana (kanal)

  Gelombang otak serupa dengan energi halus – windu

  Sel-sel serupa dengan chi.

 

Sebagai tambahan, apa yang dikatakan oleh ilmu pengetahuan modern tentang proses yang terjadi di seluruh tubuh kita sama dengan penyajian pengetahuan secara Buddhis. Tubuh mirip dengan cangkir ini [Rinpoche mengangkat cangkir], dan batin mirip dengan air dalam cangkir ini. Sebelum kita memperoleh pembebasan, maka selama kita menggerakkan cangkir, air di dalam akan bergerak juga. Jika kita minum air ini, maka kita minum batin kita [tertawa].

 

Pada tingkatan ini, tubuh dan batin berjalan bersama, secara sinkron dan terus menerus. Tubuh kita berproses dari tingkatan tubuh kehidupan ini menuju  tingkatan tubuh perantara (intermediary state), antara kematian dan kelahiran kita di kehidupan mendatang, dan kemudian ini menjadi tubuh pada kehidupan mendatang. Batin kita juga menjalani cara yang sama terus menerus seperti proses tubuh. Inilah penjelasan secara Buddhis.

 

 

7 Titik Postur Meditasi 

 

Ada tujuh titik yang sangat penting pada postur tubuh saat kita bermeditasi, yakni:

1. Kaki

Titik utama postur pertama adalah kaki yang disilangkan – persis seperti posisi duduk kalian saat ini. Inilah adalah postur yang paling baik. Jika kamu dapat berpostur kaki “postur Vajra”, atau dikenal umum dengan postur teratai penuh, inilah postur kakimu yang terbaik saat duduk. Akan tetapi, kita juga harus memerhatikan tanda-tanda dari tubuh kita; jika kita merasa kesakitan ketika duduk dengan postur vajra dan kamu coba memaksakan dirimu dalam postur ini, sedangkan kita tidak mampu berpostur seperti itu, maka keadaan ini benar-benar membuat kita sangat menderita. Maka sebaiknya kita tidak berpostur seperti itu. Meskipun kita duduk dalam posisi kaki silang biasa (setengah teratai), tidak menjadi masalah untuk meneruskannya jika kaki kita hanya merasa nyeri. Kita juga dapat duduk di kursi.

 

2. Tangan

Titik utama postur ke-2 adalah meletakkan tanganmu dalam posisi seimbang, telapak tangan kiri disebelah bawah dan telapak tangan kanan ditaruh di atas telapak tangan kiri. Hal terpenting adalah mengistrahatkan tanganmu dalam keadaan relaks. Kita juga dapat menaruh telapak tangan kita di atas kedua lutut kita. Sebagian orang yang tangannya pendek dan jika meletakkan telapak tangan di kedua lutut sehingga kondisi menjadi tidak menyenangkan, maka mereka dapat menaruh tangannya sedikit lebih maju di atas paha.

 

3. Bahu

Titik utama postur ke-3 adalah merelakskan bahumu dengan nyaman. Akan ada ruang antara rusuk dengan lengan atas-mu. Jika kita merelakskan bahu kita dan meletakkan tangan kita di atas lutut, maka secara alami terdapat ruang terbuka antara lengan atas dengan daerah rusuk kita. Jika kita berpostur dengan tangan berada di atas pangkuan (sedikit di bawah pusar), kita dapat sedikit mengulurkan lengan atas sehingga ruang antara lengan atas dan rusuk kita sedikit terbuka. Ini mirip dengan sayap burung nasar[2].

Ketika dalam perjalanan saya di Prancis, dan suatu pagi ketika saya sedang berjalan di taman, saya lewat di depan seorang yang sedang duduk di taman. Dia mendorong keluar lengannya setiap beberapa detik. Lalu dia memandang dan mendekati saya, berbicara kepada saya dan bertanya apakah saya adalah seorang bhiksu Buddhist yang suka meditasi. Rinpoche jawab ya. Pria tersebut bertanya pada Rinpoche apakah Rinpoche mengalami kesulitan dalam bermeditasi, dan Rinpoche menjawab tidak, tidak ada masalah. Kemudian pria ini membalas, “Oke, saya merasa sulit ketika bermeditasi, karena kita harus menggerakkan tangan kita seperti ini [mengepak-ngepak lengan tangan], iya kan?“ Saya jawab, “Tidak, saya tidak pernah mendengar teknik itu, dari mana kamu belajar hal itu?” Pria ini mengatakan bahwa ia dapatkan teknik itu dari membaca buku. Lalu saya tanya ke dia, apa yang diuraikan dalam buku itu, dan pria itu mengatakan bahwa buku tersebut menyebutkan ketika bermeditasi tangan kita harus berbentuk seperti sayap burung nasar [peserta tertawa]. Mungkin ini karena burung Nasar di Tibet berbeda dengan burung Nasar di Prancis [tertawa]? Hanya bercanda.

 

4. Punggung

     Titik utama postur ke-4 merupakan titik paling penting : duduk dengan punggung yang lurus. Kita seharusnya tidak membungkuk seperti ini [diperagakan]. Jika kita menjulur punggung secara berlebihan, maka kita akan jatuh ke arah belakang. Jadi, kita harus duduk dengan punggung yang lurus. Tidak masalah jika kita mencoba mencondongkan sedikit ke depan atau sedikit ke belakang, dan kita harus menjaga pikiran kita tetap relaks dan tidak terlalu tegang terhadap proses ini. Kita tidak perlu berusaha meraih kondisi yang lebih halus apakah dengan menelonjorkan dada ke depan atau ke dalam atau apapun sejenis itu.

 

5.  Dagu (Rahang)

Titik utama postur ke-5 adalah dagu sedikit dimasukkan (didorong) masuk sehingga titik berat kepala terasa di dagu kita, biarkan dagu menyangga berat kepala  kita. Kita biarkan berat kepala kita untuk beristrahat agar rahang/dagu kita perlahan sedikit menekan jakun kita. Jika kita ingin memutarkan kepala kita dari satu sisi ke sisi lain, maka kepala kita benar-benar siap untuk melakukannya. Sebagian orang memiliki kecenderungan untuk mendorong kepalanya ke belakang, atau ke depan (menunduk), atau memaling kiri-kanan atau apaun yang kamu lakukan, namun kita harus tetap mengarahkan kepala kita di tengah.

 

6. Mulut

Titik utama postur ke-6 adalah mulut kita yang harus relaks sedemikian rupa sehingga gigi bagian atas dan bagian bawah tidak saling bersentuhan dan bibir atas dan bawah juga tidak saling bersentuhan – ada sedikit ruang diantaranya. Kita dapat bernapas melalui mulut kita, bernapas melalui hidung atau bernafas melalui keduanya.

 

7. Mata

Titik utama postur ke-7 adalah mengistrahatkan mata kita sealami mungkin. Kita dapat berpandangan dengan sudut sedikit ke bawah, lurus ke depan ataupun sedikit ke atas. Sesungguhnya bergantian sudut pandangan dari waktu ke waktu akan jauh lebih baik. Jika kita mencoba bertahan dengan sudut pandangan pada tempat yang sama dalam tempo lama, ini akan membuat mata kita lelah, jadi dengan sesekali bergantian sudut pandangan akan dapat mempertahankan mata kita tetap segar. Dan boleh juga kita menutup mata kita ketika bermeditasi.

 

 

Non-meditasi 

 

Penjelasan tentang postur tubuh ketika meditasi selesai.

Dari semua titik utama ini, yang terpenting adalah tetap ingat bahwa tubuh yang relaks merupakan kunci yang paling penting. Kita harus duduk dengan otot tubuh yang relaks. Oke, mari kita berlatih bersama, hanya melatih postur tubuh. Kita tidak perlu bermeditasi.

 

Duduklah dengan punggung lurus, relakskan semua bagian tubuhmu, dan relakskan juga pikiranmu. Kamu tidak perlu memikirkan hal-hal lain – kita hanya duduk dengan tubuh dan pikiran yang relaks. Kita sudah tidak berbicara mengenai meditasi lagi. Kita hanya duduk dengan tubuh dan pikiran yang relaks, persis seperti ketika kita baru menyelesaikan pekerjaan berat yang melelahkan. [Rinpoche membimbing seluruh peserta berlatih]

Bila kita menyelesaikan suatu pekerjaan atau olahraga yang berat, dan kita benar-benar bekerja keras, kita menjadi lelah, dan kita beristrahat dan merelakskan tubuh kita. Mari, duduklah dengan relaks seperti ini. [semua duduk].

 

Oke, selesai. Apa yang kalian rasakan? Apakah kalian dapat relaks? Bagus.

Ini adalah meditasi relaksasi. Tapi, tadi saya tidak menginstruksikan kalian untuk bermeditasi. Inilah disebut, non-meditasi adalah jenis meditasi tertinggi. Makanya kita tidak perlu bermeditasi. Kita hanya merelakskan tubuh dan merelakskan pikiran kita.

 

Kita sering mengalami keadaan relaksasi tubuh dan pikiran kita dalam keseharian hidup kita. Lalu, mengapa kita tidak memperoleh manfaat ketika keadaan ini terjadi? Karena kita tidak menyadari keadaan ini sedang terjadi. Barusan kita coba relaks sambil menyadari bahwa kita sedang relaks. Inilah yang dinamakan perhatian murni. Maka dari itu, jika kita relaks, perhatian murni harus muncul bersamanya. Biasanya, kita melepaskan lelah kita dan selanjutnya kita relaks, tapi kita tidak menyadari bahwa kita sedang relaksasi – perhatian kita selalu tertuju hal luar, mencari hal-hal lain.

 

Di sini kita merelakskan tubuh dan pikiran kita sambil menyadarinya bahwa kita sedang melakukan relaksasi. Dengan menyadari bahwa kita sedang relaksasi ketika kita berelaksasi, kita dapat mengambil kendali atas pikiran kita. Jadi, ini mudah kan? Ini sangat mudah. Kamu tidak perlu melakukan apapun. Kamu tidak perlu bermeditasi. Kamu tidak perlu membuat sesuatu. Kamu tidak perlu berusaha keras. Jadi ini lebih mudah daripada tidur! Ketika mau tidur, kita perlu menyiapkan tempat tidur dan memastikan terdapat bantal yang enak dan baru kemudian kita berbaring dan beristirahat.

 

Ketika kita merelakskan dengan cara begini, apa yang terjadi pada pikiran kita? Pikiran kita relaks dan menyenangkan tapi kita tetap tidak dapat mengenalinya; kita tidak dapat menunjuk pada pikiran kita dan berkata “ini adalah pikiranku yang relaks” atau “ini adalah pikiranku yang menyenangkan.” Ini adalah teknik meditasi yang telah diuraikan yang disebut meditasi shamatha atau berdiam dalam keheningan tanpa objek.

 

Bagi pemula mungkin tidak mengalami jenis meditasi ini untuk waktu lebih dari 2, 3, atau 5 detik, tapi ini sudah bagus. Kita harus berlatih dalam kuantitas kecil dan berulang-ulang. Jika kita menyediakan wadah yang sangat besar dan meletakkannya di tempat penampungan air hujan, tetesan air yang jatuh akhirnya akan membuat wadah air ini penuh. Hal yang sama, jika kita berlatih dalam kuantitas kecil – berulang kali, meditasi kita akan berkembang. Kita tidak boleh berpikir dengan pemikiran seperti “Saya butuh duduk dalam waktu yang lama”, “Saya perlu menghentikan pemikiran-pemikiranku”, karena pemikiran akan tetap muncul dan kita tidak dapat menghentikannya. Kita tidak dapat menembak pemikiran kita, kita tidak dapat membakar pemikiran kita, dan meskipun kita menyiapkan sebuah bom, semua ini tidak dapat menghentikan pemikiran-pemikiran kita. Inilah sifat dasar dari pikiran. Kita tidak perlu menghentikan pemikiran.

Apa yang perlu kita lakukan? Yang kita perlu adalah perhatian murni. Kunci dasar dari meditasi shamatha adalah perhatian murni, atau, dengan kata lain, kesadaran.

 

Inilah mengapa kita dapat mengatakan bahwa ketika perhatian murni muncul, maka itulah shamatha, inilah meditasi; namun ketika tidak terdapat perhatian murni, maka tidak ada meditasi. Kita tidak mengatakan bahwa ketika ada pemikiran, maka itu bukan meditasi, dan ketika tidak ada pemikiran, maka itu meditasi; bukan seperti demikian. Kuncinya adalah apakah di sana ada perhatian murni atau tidak.

 

Jadi, meditasi dengan cara ini adalah sangat mudah sekali, tapi hanya ada 1 (satu) kesulitan : karena ini sangat mudah, maka ini menjadi sulit. Ini sulit karena kita tidak mempercayainya. Kita selalu berpikir bahwa meditasi harus berhubungan dengan sesuatu yang sangat istimewa. [Rinpoche memeragakan bentuk “blessed out” yang lucu] Relakss… Damaii…… Terbukaa… Indah…… Ini bukanlah meditasi

 

Pengharapan kita pada meditasi membelenggu pikiran kita. Karena cara meditasi ini begitu dekat dengan diri kita, maka membuat kita tidak mampu melihatnya. Hal ini mirip dengan contoh cangkir yang saya pegang. Jika cangkir ini saya angkat di depan mata kita, kita tidak mampu melihat/membaca bagian detil pada cangkir. Meditasi mirip seperti itu. Oleh karena itu, bagi pemula, akan agak lebih mudah untuk bermeditasi dengan jenis yang sedikit lebih sulit.

 

 

Meditasi 

 

Sekarang saya akan memberimu metode meditasi yang lebih sulit [tertawa]. Meditasi ini berhubungan dengan jenis-jenis kesadaran yang kita miliki. Dalan ajaran Buddhisme ada 6 (enam) jenis kesadaran :

1.  Kesadaran mata untuk melihat bentuk

2.  Kesadaran telinga untuk mendengar suara

3.  Kesadaran hidung untuk mencium

4.  Kesadaran lidah untuk merasakan

5.  Kesadaran tubuh untuk menerima sentuhan

6.  Kesadaran mental untuk menerima pemikiran

 

Alasan mengapa semua bentuk gangguan pikiran, penderitaan kita dan sikap batin seperti monyet, terjadi karena keenam kesadaran ini memiliki enam peranan masing-masing.

Kita tahu caraa kerjanya, dari hanya sebuah persepsi mengenai bentuk, kemelekatan kita muncul, kita menjadi marah, cemburu, takut, dan semua jenis emosi yang menganggu. Contoh sederhana: jika kita menyapa seseorang dengan “He-hey!” dan orang tersebut membalas kembali “He-hey” pada kita, maka kita akan merasa bahagia. Namun, jika kita menyapa, “He-hey” dan orang tersebut menatap kita dan berwajah cemberut, maka ini akan membuat kita sedih dan tidak nyaman, dan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi kita.

 

Hal ini terjadi pada objek bentuk, dan hal sama juga terjadi pada suara. Ketika seseorang mengatakan, “Kamu baik!” ini akan membuat kita bahagia; jika seseorang mengatakan, “Kamu jelek” maka ini akan membuat kita sedih. Hal yang sama pada rasa: ketika mencicipi makanan enak, ia akan membuat perasaan kita senang dalam batin kita; dan ketika kita mencicipi makanan tidak enak, itu akan membuat batin kita sedih.

 

Apa yang terjadi jika kita makan cabe yang pedas? Apakah cabe pedas itu enak atau tidak? [Jawaban yang berbeda dari peserta; Rinpoche tertawa.] Berapa orang yang berpikir bahwa cabe pedas itu enak, silahkan angkat tangan kalian. Ah, saya juga. Berapa orang yang berpikir bahwa cabe yang pedas tidak enak? Cabe yang pedas sendiri tidak dapat mengatakan apapun mengenai dirinya apakah enak atau tidak; cabe yang pedas ini tergantung pada orang yang mencicipinya. Sesungguhnya respon kita terhadap semua hal di dunia ini sama – baik atau buruk diciptakan oleh pikiran kita masing-masing.

 

Jika sifat enak – tidaknya sudah berada di dalam cabe pedas itu sendiri, maka setiap orang akan merasakan rasa yang sama. Jadi, jika cabe pedas bener-benar ada dalam bentuk “enak”, lalu tiap orang yang memakannya akan memperoleh rasa enak. Namun karena sifatnya tidak bersama cabe itu sendiri, maka cabe akan terasa enak bagi sebagian orang, dan yang lain akan merasakan tidak enak. Begitu juga dengan bau-aroma, objek yang dapat diraba, dan sebagainya.

 

Sebagian orang ketika mereka terbenam dalam meditasinya akan menganggap pemikiran yang muncul dari objek yang terlihat, suara yang terdengar, aroma yang tercium, dan seterusnya, sebagai pemikiran yang menganggu meditasi mereka, sebagai musuh dalam meditasi. Namun, bagi mereka yang benar-benar memahami esensi dasar dari meditasi, semua fenomena pikiran tersebut dapat menjadi pendukung dan penyokong meditasinya. Marilah memandang pemikiran-pemikiran yang muncul tersebut dari persfektif yang dapat mendukung meditasi kita.

 

 

Meditasi dengan Objek Bentuk

 

Pertama, dengan memerhatikan bentuk, mata kita melihat dua jenis benda: bentuk-bentuk dan warna-warna. Akan sangat baik jika memulai memerhatikannya dengan objek yang kecil. Kita dapat melihat objek yang sangat kecil dan pada saat yang sama ketika mata kita melihat objek tersebut, pikiran harus juga melihat objek tersebut. Jika pikiran kita dapat melihat objek tersebut, inilah yang disebut sebagai shamatha berobjek.

 

Kita tidak butuh apapun yang lain karena mata kita 100% sedang melihat objek. Kita tidak perlu mencoba untuk melihat sampai 200%. [Rinpoche mengangkat tangan Beliau]. Kamu melihat tangan saya. Meski kita menatap penuh selama 1 jam, dapatkah sepenuhnya pikiran kita melihat tangan ini selama 1 jam? Jika pikiran kita dapat melihat tangan ini, maka proses melihat ini menjadi [meditasi] shamatha. Ini mudah kan? Kita tidak perlu bermeditasi pada tangan kita. Kita tidak perlu menvisualisasikan tangan kita dalam pikiran kita, atau binggung tangan itu seperti apa. Kita hanya melihatnya saja. [Rinpoche mendemonstrasi dengan memutar tangannya dan mengatakan “tangan” berada di setiap tempat.]

 

Meditasi bagi pemula seperti seekor katak – ia melompat dari satu tempat lalu pergi ke sisi yang lain, lalu balik lagi ke sisi lain, kemudian balik lagi  dengan arah yang berbeda. Kita menfokuskan pikiran kita pada objek tertentu dan sebenarnya pikiran fokus pada objek tersebut tapi kemudian pikiran ini kabur lagi ke sesuatu lain, kemudian kembali lagi fokus pada objek tersebut, pergi lagi ke sesuatu lainnya. Kita tidak perlu memegang erat pikiran tersebut atau mengerahkan seluruh energi ke pikiran kita untuk mencoba dan membawa pikiran menjadi fokus. Kita hanya perlu melihat saja.

 

Kita berusaha untuk melihat suatu objek dengan pikiran kita untuk beberapa saat dan kemudian pikiran pergi keluar jalan-jalan di kota Halifax. Kita bawa kembali pikiran tersebut, dan pikiran melihat kembali objek tersebut untuk beberapa waktu, dan kemudian “ia” kembali ke rumah untuk beberapa menit, dan kemudian kita bawa “ia” balik untuk melihat objek tersebut lagi dan beginilah cara bermeditasi bagi pemula. Kita hanya terus membawa pikiran tersebut balik agar ia fokus lagi terhadap objek tersebut secara berulang kali. Ini seperti latihan olahraga.

 

Jika kita berlatih seperti ini, perhatian murni kita akan semakin kuat dan kuat. Melihat suatu bentuk, pikiran kita dapat memperlama jangka waktu untuk melihat.

Sekarang kita dapat berlatih jenis meditasi ini bersama. Kamu bisa memilih objek apa pun yang dapat kamu temui. Jika kamu mau, kamu dapat memandang bagian belakang kepala orang yang duduk di depanmu. Kamu tidak perlu berpikir, “Oh, jenis rambut apa yang dia miliki, bagaimana dia bisa keluar rumah dengan berambut seperti itu” atau “Sebenarnya orang ini tidak memiliki rambut yang lebat.” Kamu tidak perlu berpikir seperti itu.

Pertama, relakskan pikiranmu. [berhenti sebentar]

Sekarang lihatlah bentuk. [berhenti sebentar]

Sekarang, tanpa secara khusus memandang bentuk, lanjutkan dudukmu dengan pikiranmu yang relaks. [semua berlatih.]

 

Bila kita mengambil bentuk sebagai objek meditasi kita dengan cara ini, maka ada 4 hal yang dapat terjadi yang membuat kita tidak nyaman.

1. Objek yang kita lihat berkembang menjadi 2 objek.

2. Persepsi kita mengenai objek menjadi kabur sehingga kita tidak mampu melihat objek tersebut dengan jelas lagi.

3. Segala sesuatu mulai bergerak sehingga objek tersebut tidak diam, kepala seperti sedang pusing/pening.

4. Mata kita mungkin mulai sakit, seolah-olah benar-benar ada benda/partikel sejenis masuk ke mata kita yang membuat mata kita sakit.

 

Tidak ada yang salah dengan 4 (empat) kejadian ini; kita hanya perlu lanjutkan melihat apa saja yang muncul oleh mata kita. Jika kita melihat ada dua objek yang muncul bersamaan, kita dapat terus melihatnya, tapi pada keduanya.

Bila kita berlatih dengan cara ini, akan baik jika jenis meditasi yang telah kita lakukan dilatih secara silih berganti, sesekali melihat bentuk, sesekali tidak melihat bentuk secara spesifik tapi hanya duduk dengan pikiran yang relaks dan kembali lagi ke objek dan seterusnya bergantian. Jika kita menjadi letih melihat bentuk, duduk saja dengan relaks. Jika kita menjadi letih atau bosan dengan duduk relaks, lalu lihatlah bentuk.

Apakah ada pertanyaan mengenai teknik meditasi dengan objek bentuk?

 

 

Meditasi dengan Objek Suara

 

Sekarang kita akan bermeditasi dengan teknik yang berhubungan dengan suara. Dapatkan kamu mendengar suara-suara? Suara apa? Apakah ada suara yang berasal dari langit-langit? Kita akan meditasi bersama dan perhatian kita tujukan pada apa yang kita dengar – boleh suara apa pun, tidak masalah suara apa yang terdengar. Kita tidak perlu fokus pada satu suara. Kita hanya memeriksa dengan pemikiran, “Apa yang sedang telinga saya dengar?” Kita buka pendengaran kita. Jika kita tidak mendengar suara tertentu apa pun, maka ini dapat menjadi shamatha tanpa objek, dan kemudian bila kita memberikan perhatian pada kesadaran pada apa yang kita dengar, ini menjadi shamatha berobjek. Bila mempraktekkan jenis meditasi dengan objek suara ini, ada 2 (dua) hal yang mungkin terjadi yaitu jenis shamatha yang silih berganti –  shamatha berobjek dan shamatha tanpa objek.

 

Pertama, duduklah dengan pikiran yang relaks. [berhenti sebentar]

Sekarang dengarlah suara. [berhenti sebentar]

Sekarang relakskan pikiranmu. [berhenti sebentar]

 

Bila kita melakukan latihan melihat bentuk dan pikiran kita melihatnya juga, mendengar suara dan pikiran kita mendengarnya juga – ketika pikiran kita juga melihat bentuk dan mendengar suara – kita sedang berlatih perhatian murni dan sedang mengembangkan perhatian murni kita. Semakin mampu pikiran kita untuk tetap bertahan pada objek persepsi, perhatian murni yang terbentuk akan semakin kuat dan lebih berkembang. Selama latihan seperti ini terus dilanjutkan, pikiran kita menjadi semakin jinak, lebih damai, dan lebih bahagia dan ceria. Kita bangkit mengambil kendali pikiran kita dan kita memperoleh batin kita yang lebih halus – batin kita menjadi lebih fleksibel.

 

Tanya : Saya mendengarkan detak jam dan suara udara yang bergerak melalui ventilasi. Saya heran mengapa saya tidak dapat mendengar satu suara saja. Saya perhatikannya sebagai 2 suara yang berbeda. Meski pikiran saya ingin sekali mendengar setiap suara sebagai 1 suara, saya selalu memilah suara-suara berbeda yang terdengar, dan itu tidak sekalipun terjadi.

Rinpoche  : Ini tidak bermasalah. Kamu tidak perlu mencerna setiap yang telinga kamu dengar sebagai satu jenis suara. Kamu hanya memberikan perhatian pada salah satu suara apapun yang lebih menarik untuk didengar atau apapun suara yang kedengaran paling jernih atau paling jelas. Kamu hanya duduk di sana dengan telinga yang terbuka, tanyain dirimu apa yang telingamu dengar. Suara apa pun yang muncul lebih jelas atau suara apa pun yang lebih menarik bagimu, kamu hanya perlu mendengar suaranya dengan batinmu.

 

Kadang-kadang ini terjadi, meski ada suara, kamu tidak mampu mengindentifikasinya sebagai suara yang khusus. Ini adalah suara [Rinpoche menggesekkan mikropon untuk menghasilkan suara] namun kamu tidak mampu mengidentifikasi suara tersebut sebagai suara yang khusus. Ini juga tidak masalah. Ini dapat dijadikan sebagai shamatha tanpa objek, dan bila hal ini terjadi, itu juga baik.

 

Khususnya, jika kamu senang dengan meditasi pada shamatha tanpa objek, dan sebagainya, sebenarnya ini dapat meningkatkan meditasimu. Kamu akan mendapati bahwa saat kamu berlatih meditasi tanpa objek akan terasa lebih baik daripada usahamu yang lazim pada shamatha tanpa objek. Bagi siswa yang lebih senior yang telah menerima instruksi lisan (pointing out instructions), mengenali sifat alami pikiran akan semakin jelas saat ini ketika mereka tidak dapat mengidentifikasi suaranya.

 

 

Tanya Jawab

T  : Apa perbedaan antara mendengar kuliah atau percakapan ketika Anda fokus pada telingamu dan pikiranmu secara bersamaan pada suara itu dibanding dengan ketika Anda hanya fokus pada telingamu ketika melakukan meditasi shamatha?

R  : Perbedaan utama adalah apakah kamu menyadari atau tidak bahwa kamu sedang bermeditasi. Jika kamu mendengar ceramah dan mendengar suara dari guru untuk membantu perhatian murnimu, dan kamu sadar bahwa kamu sedang menggunakan suara sebagai pendukung perhatian murni, dan kamu relaks dan memberikan perhatian pada pikiranmu saat itu, dan kamu sadari bahwa inilah apa yang sedang kamu lakukan, maka ini merupakan meditasi. Namun bila kamu tidak melakukan seperti itu, jika kamu mendengarnya tanpa bertujuan untuk mendukung perhatian murnimu dan hanya mendengar kata-kata, lalu ini tidak berbeda dengan kamu mendengarkan seseorang berbicara dengan cara yang biasa. Inilah perbedaannya: apakah disana ada perhatian murni atau apakah disana tidak ada perhatian murni.

Biasanya bila kita mendengar suara, kita kehilangan kontrol diri kita. Namun bila kita berlatih jenis meditasi objek suara ini, kita tidak kehilangan diri kita.

T  : Apakah Anda mengajarkan meditasi pada indera perasa?

R  : Ya. Besok saya akan mengajarkan merasa, menyentuh dengan pikiran.

 

T  : Anggap bahwa jika saya berencana mulai bermeditasi tiap harinya, berapa lama saya harus melakukannya sebagai seorang pemula?

R  : Kamu dapat meninjau dan melakukannya berdasarkan jadwalmu dan lihat seberapa banyak waktu yang kamu miliki untuk digunakan, tapi jika kamu dapat memulainya dengan duduk selama sejam merupakan hal yang baik. Dan juga, bila kamu mulai bermeditasi, hal terpenting adalah kamu tetap menjaga perhatian murni dari satu momen ke momen lain senormal mungkin. Sebagai contoh, jika kamu sedang minum air, kamu angkat penutup gelas dari cangkir dan berikan perhatianmu pada itu. Lalu beri perhatianmu pada menaruh tutup cangkir tersebut. Angkat lagi tanganmu, beri perhatian pada tanganmu, dan ketika mengangkat cangkir beri perhatianmu pada proses mengangkat cangkir tersebut. Lalu beri perhatian pada rasa, dan tahu bahwa kamu menaruh kembali cangkir itu. Beri perhatian dan ketahui apa yang sedang kamu lakukan pada hal yang sama.

T  : Terima kasih.

R  : Terima kasih kembali. Pemula perlu melakukannya secara relaks. Namun bila kamu sudah lebih terampil, kamu dapat melakukannya dengan cepat dan masih tetap ada perhatian murni. Kamu dapat memiliki perhatian murni pada saat melakukan hal tersebut. Ketika kita mengaplikasikan meditasi kedalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak perlu menjadi seperti robot.

 

T  : Rinpoche, saya pernah mendengar Ringu Tulku Rinpoche memberi nasihat pada seorang wanita yang terganggu karena suara gonggongan anjing untuk memnon-aktifkan (menghentikan) kedua telinganya [Rinpoche tertawa].

R  : Jika kamu dapat memnon-aktifkan telingamu dengan pikiran, maka ini sangat bagus. Cara terbaik untuk melakukannya adalah jadikan pikiranmu agar tidak berpikir suara tersebut sebagai musuh tapi pikirkan suara itu sebagai teman. Jika pikiranmu dapat berpikir suara itu sebagai teman, maka cara ini sama dengan kamu memnon-aktifkan kedua telingamu.

Ada sebuah cerita yang terjadi lama sekali. Seorang musisi terkenal dari India, seorang pemain gitar yang handal, diundang oleh banyak orang untuk melakukan pertunjukan di berbagai tempat. Pria ini pernah melakukan perjalanan di wilayah India selama 6 bulan. Ketika dia kembali ke rumahnya, dia menemukan istrinya telah menjalani hubungan dengan laki-laki lain. Ketika pria ini mengetahui hal ini, dia dan istrinya terlibat pembicaraan panjang [tertawa].

Diakhir perdebatan tersebut, pria ini menetapkan bahwa dia akan menyerahkan semuanya dan pergi keluar untuk meditasi. Dia berikan semua yang dimilikinya ke istrinya, dan pergi ke gunung hanya membawa gitarnya.

Dalam perjalanan menuju gunung, pria ini melihat seorang yogi sedang bermeditasi dalam gua. Rambut yogi ini ditambat berbentuk jambul, dan dia menggunakan anting-anting berhiaskan tulang besar. Yogi ini menatap lurus keluar ruangan. Lelaki ini melihat yogi ini dan menjadi sangat terinspirasi dengan keyakinannya. Dia mendekati yogi tersebut dan meminta yogi ini memberikan instruksti meditasi. Yogi ini memiliki perut yang agak besar.

Guru tersebut mengajarkan bagaimana bermeditasi kepada musisi muda itu. Dia berkata, “Duduklah dengan pikiran yang relaks.” Pria ini menerima instruksi ini dari guru dan menuju tempat meditasi di sebelah kanan yogi tersebut bermeditasi.

Pria ini berusaha berlatih dari instruksi yang diterimanya, duduk dengan pikiran yang relaks. Namun, dia tidak dapat melakukannya sama sekali – pikirannya dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran. Terutama dia tidak dapat berhenti memikirkan gitarnya.

Adakalanya dia ingin duduk di sana dan bermeditasi, lalu kemudian pikirannya muncul tentang gitarnya. Akhirnya dia menyerah dan mengambil gitarnya dan bermain sejenak. Namun dia berkata, “Tidak, ini adalah rintangan untuk meditasiku,” dan menaruh gitarnya di samping dan berusaha untuk duduk tapi timbul lagi pikiran yang kacau.

Hari selanjutnya dia menemui kembali yogi dan menyampaikan, “Guru agung, saya memiliki karma yang begitu buruk! Saya tidak punya karma untuk bermeditasi, saya tidak dapat melakukannya. Mohon berilah petunjukmu.” Lama[3] ini mengatakan, “Apa masalahmu?” Musisi ini menjawab, “Karena saya telah mengumpulkan karma buruk melalui permainan gitar, saya tidak dapat melepaskannya dari pikiranku. Semua yang terpikirkan adalah mengenai keinginan bermain gitar.” Lama mengatakan, “Sama sekali tidak ada masalah! Saya akan memberimu metode baru.”

Lama mengajari pria ini metode meditasi yang mana dia dapat fokus pada suara gitar, dan pria ini sangat bahagia menerima petunjuk itu. Dia kembali ke gubuk meditasinya dan bermeditasi sambil bermain gitarnya. Titik permulaan sesinya adalah ketika dia mulai bermain gitar. Setelah hampir 7 tahun, dia menjadi seorang Mahasiddha agung.

Dia benar-benar menjadi mahasiddha, dan saya harap ini juga terjadi pada kalian juga. Kamu dapat berlatih dengan komputermu, atau mungkin dengan telepon atau mobil.

 

T  : Apa yang terjadi pada istrinya?

R  : Wanita tersebut mendapatkan suami baru yang baik dan rumah baru yang bagus. Karena semua yang dimiliki pria musisi ini diberikan semuanya kepada wanita itu.

 

[Pelimpahan jasa kebajikan]

  

 ==============================================

Sumber : http://mingyur.org

       The Very Venerable Yongey Mingyur Rinpoche

       Meditation and Non-meditation – Talk One

       Halifax Shambhala Center, Nova Scotia Canada, January 27, 2004

Penterjemah ceramah        : Tyler Dewar      
Ditulis ulang (Inggris)         : Ben Trembley

Editor B.Inggris                 : Judith Smith

Terjemahan ke Indonesia   : Endrawan – Oktober 2008 (untuk kalangan pribadi)

===============================================


Mind : diterjemahkan menjadi batin atau pikiran

Burung nasar  : burung pemakan bangkai. Sayapnya memiliki ruang pisah dengan tubuhnya.

Lama = guru

Mahasiddha = pertapa yang mencapai pencerahan

 

 

Posted in Buddhist Master | Tagged: , , , , , , , , , | 1 Comment »

Landasan Latihan : Sila, Samadhi, Prajna

Posted by ET on October 25, 2008

Landasan Latihan : Sila, Samadhi, Prajna

Ceramah Retreat Hari ke-2

Oleh: Yang Mulia Ch’an Master Sheng Yen

 

Ceramah Pagi

 

Dalam ajaran Ch’an, terdapat 3 landasan latihan. Kemarin saya menyampaikan sebagian dari landasan pertama. Hidup dengan bersih, teratur, damai dan harmonis dalam setiap tingkah laku sehari-hari. Yang ini, bersama dengan tuntunan yang lain, masuk dalam landasan hidup sesuai dengan sila – moralitas. Landasan ke dua adalah samadhi – perhatian murni, yang dapat dijabarkan secara luas termasuk metode dalam meditasi. Bagaimana kita menggunakan metode untuk menyeimbangkan batin? Patriat (pemegang silsilah ajaran) terdahulu menyampaikan bahwa samadhi tidak lebih dari batin itu sendiri. Kemudian ini diikuti oleh pengembangan samadhi melalui metode meditasi yang membawa batin yang bersih dan seimbang. Secara umum ini diterima sebagai pengembangan meditasi yang membawa tumbuhnya prajna (kebijaksanaan) yang menjadi landasan ke tiga. Dalam persfektif spiritual lain melihat kebijaksanaan secara dangkal. Tingkat absorbsi meditasi yang dalam (samadhi) dari mereka membawa intelektual yang tinggi, kebijaksanaan, keseimbangan mental, namun bukan pembebasan.

 

Kebijaksanaan yang dibahas dalam ajaran Buddha mengacu pada pencerahan dan pembebasan. Dalam Sutra Altar (Platform Sutra), patriat ke-6 mengatakan bahwa samadhi adalah prajna dan prajna adalah samadhi. Ketika samadhi tepat selaras dengan kebijaksanaan, itulah Ch’an. Kebijaksanaan merupakan perpaduan akhir dari hubungan saling melengkapi antara teori (landasan) dan praktik (latihan). Intisari dari semua bentuk teori adalah tiada aku karena tidak ada yang kekal. Kemarin saya membabarkan metode untuk melihat pernafasan. Ini sesungguhnya merupakan perenungan terhadap ketidakkekalan. Bernafas, pergerakan dari tubuh, hitung angka, semuanya terus berubah dari satu momen ke momen yang lain. Sewaktu meditasi duduk, hal yang sama pentingnya adalah perenungan ketidakkekalan terhadap pikiran liar. Bentuk pikiran, sebanyak segala sesuatu, selalu muncul dan lenyap. Ide tentang diri juga ditimbulkan dari pemikiran-pemikiran, atau sebenarnya, berasal dari kemelekatan terhadap bentuk pikiran.

 

Saat kita mengalami dan merealisasi sifat dasar pemikiran-pemikiran yang tidak kekal, kita juga akan merasakan pengalaman sifat dasar mengenai diri. Pemikiran tidaklah berdiri sendiri, sesuatu yang di luar, dan juga tidak ada diri yang mengindentifikasi dengannya. Pengalaman mengenai ketidakkekalan merupakan sesuatu hal yang sangat penting dalam latihan seseorang. Para praktisi di luar jalur menginterpretasikan samadhi sebagai batin yang tidak bergerak. Merek tidak merealisasi bahwa meski batin tidak bergerak, di sana masih ada satu pemikiran. Meskipun mereka batin mereka tersisa hanya satu pemikiran yang tetap, pikiran tersebut masih mengalami gerak yang halus dan terus menerus. Ketika pemikiran itu tetap [berhenti], meski hanya ada satu pemikiran, di sana masih muncul konsep tentang diri. Di sana masih ada kemelekatan. Jika batin benar-benar tidak bergerak, maka di sana tidak ada diri. Praktisi Ch’an percaya bahwa hal yang lebih penting adalah mengenali dan mengalami ketidakkekalan daripada berusaha menghentikan proses berpikir. Jika kita dapat mempertahankan kesadaran terhadap ketidakkekalan dari pemikiran, kita akan melihat bahwa tiada diri yang melekat pada bentuk-bentuk pikiran. Kita dapat secara langsung mengetahui setiap pemikiran tanpa aku. Inilah kebijaksanaan itu sendiri.

 

Pembebasan, berdasarkan Ch’an, timbul melalui pemahaman dari konsep ketidakkekalan, yang diiringi oleh pengalaman langsung dari ketidakkekalan tersebut. Agar dapat mengalami pembebasan, pertama kita harus menerima sila (landasan yang saya gariskan kemaren) dan berlatih metode yang diberikan dengan rajin. Kita harus berlatih dengan sebuah pemahaman kebijaksanaan, maka dari itu kita dapat mencapai pengalaman tersebut secara langsung. Inilah kebijaksanaan pembebasan. Inilah pencerahan seketika.

 

 Ceramah di Waktu Sarapan

Meskipun saya tidak dapat memberikan pengalaman pencerahan kepada kalian, saya dapat memberikanmu petunjuk. Jika kamu menempatkan petunjuk ini untuk dipraktikkan, ini mungkin dapat membantu latihanmu. Kamulah yang harus berusaha dan mengikuti jalan. Saya hanya memberikan petunjuk dan arahan. Ada dua masalah yang mengganggu para praktisi: rasa kantuk dan pikiran melayang. Rasa kantuk menimpa semua orang – praktisi pemula, lanjutan, bahkan para master. Namun demikian, hari in saya akan berbicara tentang pikiran liar.

 

Pikiran melayang, atau ketidakmampuan konsentrasi pada metode karena munculnya pemikiran yang liar, yang disebabkan karena pengertian yang salah tentang bagaimana mengunakan metode. Faktor kontribusi yang lain adalah mental yang letih dan malas. Ketika pikiran melayang sering muncul, langkah pertama yang dilakukan adalah merelakskan tubuh dan pikiranmu. Dengan kata lain, beristrahatlah sebentar. Dengan sengaja, kesampingkan dulu latihanmu dan berhentilah sejenak. Jika kemalasan merupakan akar masalahmu, bahkan kamu tidak menyadari bahwa kamu telah meninggalkan metode [latihan]. Maka kamu benar-benar akan terbenam dalam pikiran liar. Agar latihanmu menjadi efektif, hal yang penting adalah bawalah dirimu kembali ke metode [latihan] setiap kamu menyadari bahwa kamu keluar dari latihan.

 

Ada tiga tingkatan latihan. Pertama disebut sebagai “taking it up,” – “memperoleh kembali” dan ini merupakan usaha untuk selalu kembali pada metode. Yang kedua adalah kontemplasi – perenungan, usaha metode latihan dengan lancar dan kontinyu. Tingkat yang ke tiga tercapai jika perenungan dilakukan tanpa interupsi. Tingkat ini merupakan tingkat pencerahan. Pencerahan merupakan kejernihan kesadaran yang menyadari bahwa kamu dalam metode [latihan]. Dari ketiga tingkatan, tingkat pencerahan merupakan tingkat yang terpenting. Ketika kamu bekerja dengan kondisi tenang-lancar pada semua tingkatan, berarti kamu telah menerapkan metode ini dengan benar. Selama waktu itu, pembicaraan pikiran yang melayang menjadi tidak relevan. Disana tidak ada lagi ketidakteraturan. Ini sekaligus membantumu untuk menghadapi rasa kantuk. Namun kadang-kadang, dari semua terbaik untuk dilakukan adalah dengan istrahat. Jadi, hingga poin ini, sebaiknya kamu fokus pada metode latihan tingkat pertama, yang disebut ‘memperoleh kembali’. Jangan jadi goyah karena bentuk-bentuk pikiran yang mengiurkan. Bawalah dirimu untuk kembali pada metode [latihan] secara terus menerus.

 

 

Sumber :

http://www.chan1.org/ddp/talks/day2-m.html

Seven-days Retreat Talk (Day 2)” by Ven Master Sheng Yen

Diterjemahkan dari “Seven days Retreat Talk” (28 Nov – 5 Dec 1992)

Hari II – 29 Nov 1992 di Ch’an Meditation Centre, Elmhurst – New York

Dipergunakan untuk khusus kepentingan pribadi

Email: endrawantan@yahoo.com

Posted in Buddhist Master | Tagged: | Leave a Comment »

Precept Dedication Prayer

Posted by ET on September 3, 2008

By: Shantideva (revised by H.H Dalai Lama XIV)

Semoga semua makhluk yang ada di mana saja, yang sedang didera derita fisik maupun bathin, memperoleh lautan kebahagiaan dan suka cita melalui kebajikan jasaku.
Semoga tiada makhluk hidup menderita, melakukan kejahatan ataupun jatuh sakit.
Semoga tiada orang yang takut dihina, dengan pikiran yang dihimpit oleh depresi.
Semoga mereka yang buta melihat bentuk dan yang tuli mendengar suara.

Semoga mereka yang tubuhnya tergerus kerja keras dipulihkan manakala menemukan istrahat.
Semoga yang telanjang menemukan pakaiaan, yang lapar menemukan makanan.
Semoga yang haus menemukan air dan minuman lezat.
Semoga yang miskin menemukan kekayaan, yang lemah karena sedih menemukan suka cita.
Semoga yang dicampakkan menemukan harapan, kebahagiaan yang konstan, serta kemakmuran.

Semoga hujan turun tepat waktu dan panen berlimpah.
Semoga semua obat manjur dan semua doa yang baik terkabulkan.
Semoga yang sakit terbebas dengan cepat dari penyakit mereka.
Apapun penyakit yang ada di dunia ini, semoga tidak terjadi lagi.

Semoga yang ketakutan berhenti ketakutan dan yang diikat menjadi bebas.
Semoga yang tiada kuasa menemukan kekuatan dan umat manusia berpikir saling memberikan manfaat.

Semoga berkat kebajikan jasaku ini, semua makhluk mencapai ke-Buddha-an.

Sadhu…Sadhu…Sadhu.

Posted in Buddhist | Tagged: | Leave a Comment »

Innov Astra 2018

Posted by nusantaraku on February 28, 2018

Jangan melupakan

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Thich Nhat Hanh : Vegetarianisme

Posted by ET on September 18, 2008

Bervegetarian merupakan cara efektif untuk mengatasi global warming. Para praktisi Buddhis telah menjalankan vegetarianisme lebih dari 2000 tahun lalu. Kita bervegetarian dengan niat untuk memupuk welas asih ke segenap makhluk. Dan sekarang kita tahu bahwa kita hidup bervegetarian agar membantu melindungi bumi ini.

YM Thich Nhat Hanh, “Letter from Thay”, Oktober 2007[36]

 

Posted in Buddhist Master | Tagged: | Leave a Comment »

Kumpulan Kata Bijak YM Master Thich Nhat Hanh

Posted by ET on September 18, 2008

Kedamaian ditemukan di sini dan saat ini, di dalam diri dan di setiap aktivitas yang kita lakukan dan temui. Pertanyaannya adalah apakah kita mampu menyentuh kedamaian tersebut. Kita tidak perlu berjalan jauh untuk menikmati birunya langit. Kita tidak perlu meninggalkan kota atau tetangga kita untuk menikmati keriangan anak-anak kecil. Bahkan udara yang kita hirup dapat menjadi sumber kebahagiaan.
Thich Nhat Hanh-

Proses berdamai adalah usaha untuk membuat kedua pihak saling mengerti; pergi ke pihak pertama dan katakan bahwa pihak kedua sedang menahan penderitaannya, dan kemudian pergilah ke pihak lain dan katakan bahwa pihak pertama sedang menanggung penderitaannya.
Thich Nhat Hanh-

Ketika orang lain membuat kamu menderita, ini dikarenakan dia sedang begitu menderita dalam dirinya, dan penderitaannya melampaui batas kemampuannya. Dia tidak membutuhkan hukuman, tapi dia membutuhkan bantuan. Itulah pesan yang disampaikannya.
Thich Nhat Hanh-

Orang-orang menggangap bahwa berjalan di atas air atau di udara adalah suatu keajaiban. Tapi, bagi saya keajaiban yang sesungguhnya bukanlah berjalan di atas air ataupun di udara, tapi dapat berjalan di atas bumi. Setiap hari kita bersentuhan dengan keajaiban yang tidak kita sadari: langit biru, awan putih, daun-daun hijau, warna hitam, keindahan dari mata anak-anak – kedua bola mata kita. Semua itu adalah keajaiban.
Thich Nhat Hanh-

Posted in Buddhist Master | Tagged: , | Leave a Comment »

David Beckham menjadi Pengikut Buddha

Posted by ET on September 9, 2008

6 September 2008

Los Angeles – Amerika

Trend perpindahan kepercayaan orang-orang barat untu belajar dan mengikuti ajaran Buddha kian hari kian bertambah. Tidak hanya kalangan muda milineum ke-tiga, mereka yang telah berusia pun mulai tersentuh dengan ajaran Buddha yang diajarkan Guru Gautama. Generasi muda di Eropa tertarik dengan filosofi Buddha karena mereka telah bosan dengan doktrin ajaran yang harus menerima semua instruksi yang tertulis. Pembatasan pertanyaan fundamental mengenai hakikat kebenaran mutlak menjadikan doktrin yang telah berkembang sebelumnya mulai runtuh,. Satu-satunya filosofi atau ajaran yang membuka gerbang sebesar-besarnya untuk mengeksplor ajaran/filosofi adalah ajaran Buddha.

Di akhir abad 20 ini, muncullah actor-aktor terkenal Richard Gere, Steven Heagel, Angelina Jolie, hingga pemain bola legendaries dari Inggris – David Beckham tertarik dengan ajaran Buddha. Mereka menjadi Buddhis bukan karena proses doktrinisasi, melainkan suatu perjalanan mencari hakikat diri dan kebenaran. Hal yang serupa juga terjadi pada penyanyi sekaligus penulis muda terkenal, Dewi Lestari, penulis “Supernova”.

 

David Beckham bersama istrinya Victoria pindah mengikuti ajaran Buddha. Suami istri bersama tiga orang anaknya yang sekarang tinggal di Los Angeles diberitakan mulai mendekati ritual agama dan setiap pagi mereka melakukan chanting atau baca sutra untuk mengimbangi aktivitas hidup mereka yang sangat sibuk.

 

Seorang narasumber menyatakan : “ David Beckham bersama istrinya sepenuhnya menjadi orang California. Beckham mulai memadukan kesehatan, kesejahteraan, dan tampilan mala/tasbih di pergelangan tangannya. Beckham mulai mengikuti kelas meditasi yoga dan olah tubuh setelah cedera lutut, dan teman timnya menyarankan ia untuk melakukan chanting/baca sutra untuk kedamaian batinnya.

“Saat ini, Beckham dan Victoria selalu melakukan chanting singkat selama 5 menit ketika mereka bangun bagi untuk memulai hari mereka yang kosong (kerjaan). Mereka melafal sutra “‘Homage to the blessed one, the worthy one, the rightly self-awakened one – Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddha”. Selain melakukan ritual pada umumnya, beliau juga mulai mengonsumsi makanan yang tepat.

 

Referensi : http://www.buddhistchannel.tv

 

Posted in Buddhist | Tagged: , , | 1 Comment »

Peran Kita Sebagai Generasi Muda

Posted by ET on September 3, 2008

Dipenghujung tahun 2007, terdapat iklan produk yang dibawa oleh Om Farhan. Pertama kali melihatnya, aku kira, lagi ada promosi salah satu jenis kebudayaan kita yakni Tari Kecak . Namun, setelah beberapa saat dari iklan tersebut, tiba-tiba obyek Tari Kecak diganti dengan Surf (yang dibawa Om Farhan). Merasa aneh, aku menunggu iklannya untuk melihat lebih cermat. Jika diamati secara partial, isi iklannya mungkin biasa-biasa saja. Mungkin ada sisi positif, memperkenalkan tarian kecak ke masyarakat. Namun, jika diamati secara keseluruhan, secara pribadi aku melihat ada sesuatu yang aneh dan tidak pantas. Secara garis besar isi iklannya : diawali dengan Tarian Kecak, salah satu tarian kebudayaan Indonesia yang dibawa beberapa penari dan disaksikan oleh banyak orang (orang Bali dan orang luar bali). Ditengah keseriusan dan semangat dari penonton menyaksikan tarian budaya nasional kita, yakni Tari Kecak, tiba-tiba muncul suara ” kucek cek….”. Rupanya Om Farhan yang menggunakan pengeras suara menginterupsi tarian Kecak. Suara “cek cek ..” oleh Om Farhan membuat orang yang hadir berpindah fokus ke Om Farhan. Penonton (orang yang hadir) berhenti melihat tarian Kecak, akhirnya sang penaripun menghentikan tariannya. Tari Kecak terhenti karena interupsi suara “kucek cek cek” demi mengiklankan suatu produk deterjen, yakni Surf. Dari bagian ini aku merasa sedih. Tarian kita bisa dipermainkan dengan iklan. Budaya kita telah dipermainkan. Esensi budaya kita telah dipermainkan secara legal (karena diiklan) dan dipertontonkan oleh rakyat kita, dimana terdapat generasi muda harapan bangsa yang akan terpengaruh olehnya. Maka tidak heran, jika banyak esensi timur telah terdegradasi oleh pola globalisasi, terutama konsumerisme dan iklan.

Secara tidak sadar, penonton di rumah akan dididik untuk membeli produk, meningkatkan konsumsi dan sekaligus secara perlahan menghilangkan esensi budaya kita, budaya Indonesia. Dari puluhan juta penonton di rumah, ada begitu banyak benih-benih penerus bangsa yang terdoktrin oleh misi korporasi besar demi meraup keuntungan yang besar. Kita bukan tidak setuju dengan iklan, iklan produk boleh-boleh saja sejauh tidak merusak esensi dan pola pikir rakyat kita. Sekali lagi, aku berpikir dan merasa sedih dan kecewa, bagaimana tarian budaya kita (dalam hal ini Tari Kecak) memiliki nilai lebih rendah daripada sebuah produk deterjen Surf (perhatian dan respek penonton yang beralih dari Tari Kecak ke “kucek kucek….surf”). Banyak dari budaya kita telah terabaikan, namun pada sesi ini kebetulan tari Kecak. Ini opiniku, mungkin salah.

Namun dibalik ini semua, aku ingin menyampaikan bahwa, kita sekarang berada diera kritis. Dimana nilai kebangsaan kita telah pudar. Dari sistem pendidikan yang jauh dari harapan para pendiri negara kita, Bung Karno. Sampai dengan bidang ekonomi, politikm dan di sisi penggunaan produk. Korporasi-korporasi besar asing masuk ke nusantara ini dan sebagian dari korporasi meracuni generasi kita agar generasi unggul Indonesia mengabdi di perusahaan mereka dan menghabiskan sumber daya alam kita sendiri untuk dibawa ke korporasi mereka, ke negara dimana korporasi itu berasal Bentuk-bentuk iklan (iklan tersirat) seperti Surf, berkontribusi besar dalam mendidik alam bawah sadar kita untuk memudarkan cinta tanah air kita. Untuk tidak menghargai kebudayaan kita, untuk tidak menghargai produk hasil karya bangsa, untuk tidak peduli terhadap kemiskinan rakyat kita, untuk tidak mengabdi kepada rakyat kita, bangsa kita. Apa yang dapat kita lakukan? Menanggapi iklan ini, apa yang dapat kita lakukan adalah tidak mendukung perusahaan tersebut dengan tidak menggunakan produk- produk perusahaan tersebut. Lebih lanjut, pilihlah Produk-Produk dalam negeri (Milik Indonesia) sejauh produknya tidak mencemari lingkungan dan hak asasi karyawannya.

Sejauh ini, rata-rata perusahaan dalam negeri (milik Indonesia) memenuhi kriteria tidak mencemari lingkungan dan melindungi hak pekerjanya. Oleh karena, setiap kita belanja, lihatlah produk tersebut dari perusahaan apa. Untuk info : Perusahaan dalam negeri (produk olahan lokal, hasil UKM di pasar tradisional, Wings, Orang Tua, Sinar Mas Groups, Polytron, dsb). Pilihlah pasar tradisional dibanding Carefour atau super market asing. Makanlah di rumah makan lokal, rumah makan Sunda, Betawi, Jawa, Yogya, Padang, dan lainnya. Kurangi makan di tempat makan korporasi asing atau kalau bisa tidak makan di Mc.D, KFC, Pizza, Hoka-Hoka Bento dan lainnya.. Jadi, apa yang kita gunakan, dari makanan pokok, makanan ringan, pakaiaan, sabun mandi, shampoo, peralatan rumah, pakaian, transportasi dan lainnya, selama barang yang kita gunakan memiliki nilai kegunaan yang sama, pilihlah PRODUK DALAM NEGERI. Hal kedua, berusahalah membantu pengembangan masyarakat lewat pendidikan, dan dukunglah UKM demi terbentuknya Ekonomi Indonesia yang mandiri. Bekerjalah di perusahaan nasional ataupun perusaahan dalam negeri untuk kemajuan bangsa kita., bekerja dan ubahlah perusahaan kita menjadi perusahaan yang efisien, mantap dan jauh dari manajemen korup dan malas.

Bangunlah perusahaan pribadi yang membantu peningkatan kesejahteraan rakyat kita. Jika kita akan memilih perusahaan asing, maka berpikirlah bahwa motivasi kita adalah untuk BELAJAR untuk mengembangkan Indonesia bukan untuk BEKERJA demi karir atau uang. Jika motivasi kita BELAJAR di perusahaan asing, maka dalam kurun waktu 3-5 tahun, kembalilah ke “kampung halaman” untuk bekerja dan membangun negeri ini, membangun masyarakat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Bangsa yang mandiri adalah bangsa yang mampu menghargai karya bangsanya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang berjuang demi kesejahteraan bangsanya. Berpikir untuk kesejahteraan bangsa, dengan landasan motivasi ini, kita sebagai generasi harapan bangsa mampu untuk mengubah Negara kita. Semua tantangan bangsa, dari masalah kemiskinan, korupsi, mental politik uang, pendidikan yang “bermasalah”, hilangnya kepercayaan diri sebagai bangsa Indonesia, dapat kita ubah. DARI SEKARANG dengan aksi nyata kita. Aku merasa yakin kita, bangsa Indonesia dapat meraih kejayaan Majapahit di Abad 21. Dimana bangsa Indonesia yang mandiri, maju dan berkembangkan dimana masyarakat hidup sejahtera dan harmonis antar sesama, bebas dari DIKTE NEGARA ASING, bebas dari TEKANAN KORPORASI ASING. 50 tahun mendatang, ketika kita telah tiada, rakyat Indonesia tidak mendengar lagi adanya siksaan TKI-TKW di luar negeri, karena INDONESIA MAMPU MENSEJAHTERAKAN RAKYATNYA SENDIRI. 50 tahun ke depan akan menjadi kenyaataan, jika mulai sekarang kita sebagai generasi muda mulai berpikir, berkata dan berbuat untuk INDONESIA. Selamat berjuang.

Posted in Indonesia, Society | Tagged: | Leave a Comment »