Yang Mulia Yongey Mingyur Rinpoche
Meditasi dan Non Meditasi – Dharma Talk I
Halifax Shambhala Center, Nova Scotia Canada, January 27, 2004
Selamat sore semuanya.
Tashi Delek. Selamat pagi. Mungkin selamat malam. Wilayah tertentu di Kanada, siang hari berlangsung selama 6 bulan dan 6 bulan selanjutnya akan mengalami malam hari. Maka, penggunaan phrasa “selamat pagi” dan “selamat malam” tidak selalu dapat dipergunakan. Jadi “selamat untuk kondisi apapun”
Shamatha
Malam ini kita akan membicarakan meditasi untuk berdiam dalam keningan atau shamatha (skt). Topik dari seri ajaran ini adalah “Meditasi dan Non-meditasi,” dan judul ini tampak sebagai dua hal yang berlawanan satu sama lainnya. Namun, jika kita benar-benar memahami apa sesungguh meditasi itu, kita akan melihat keduanya sama.
Bahasa Tibet untuk berdiam dalam keheningan atau shamatha adalah shi-ne. Suku kata pertama adalah shi, bermakna menjadi tenang. Apa artinya “menjadi tenang”? Artinya kita tidak mengontrol pikiran normal kita, pikiran yang menderita dan pikiran yang berperilaku seperti seekor monyet liar. Shi merujuk pada menenangkan pikiran kita – kita mengambil kendali batin kita dan menenangkan kualitas-kualitas yang buruk seperti pikiran yang liar.
Suku kata ke-dua, ne, berarti berhenti/diam atau beristrahat. Ini adalah cara untuk mengambil alih pikiran agar dapat melakukan tujuan apapun yang kita inginkan. Jika kita ingin agar pikiran kita menjadi tenang, pikiran menjadi tenang; dan jika kita menginginkan pikiran kita berpikir sesuatu, maka pikiran akan melakukannya. Kita telah benar-benar mengendalikan pikiran kita. Inilah apa yang disebut ne.
Kita berbicara tentang apakah kita mengambil kendali atau memberi kebebasan terhadap pikiran kita. Kita mungkin bertanya, apakah hal biasa bila kita mengontrol ataupun memberikan kebebasan pada pikiran kita?
Tidak, ini sama sekali bukan mengontrol maupun membebaskan. Meskipun kita ingin agar kita tidak marah, tapi kita tetap jadi marah. Meskipun kita tahu bahwa kemarahan itu tidak baik, tapi kemarahan tetap muncul. Hal yang sama, kita tidak ingin sedih atau depresi, kita tidak ingin pikiran kita jadi tegang, namun semua itu tetap terjadi.
Persoalannya adalah pikiran kita menciptakan masalah-masalah yang awalnya pikiran itu tidak bermasalah.
Pikiran Monyet
Jika kita membawa seekor monyet liar di sini dan melepaskannya berkeliaran, ada dua hal yang akan dilakukannya:
1. Monyet itu akan menciptakan pekerjaan untuk kita yang semestinya tidak perlu ada pekerjaan.
2. Monyet itu akan menciptakan masalah yang semestinya tidak perlu ada masalah.
Monyet itu akan menciptakan kekacauan yang semestinya tidak perlu ada kekacauan. Ia akan datang mendekati altar dan merobek lukisan Buddha serta memporak-porandakan semua persembahan. Ia akan menurunkan semua ornamen di altar dan memberantakkan semua bantal meditasi, dan melemparnya ke sembarang tempat.
Namun sebenarnya monyet tersebut tidak perlu melakukan semua itu. Jauh lebih baik jika monyet itu masuk dan duduk dengan nyaman di atas bantal meditasi dan ia hanya perlu relaks saja di sana. Jika monyet itu sedikit merasa haus, ia dapat pergi ke altar dan minum air; cukup tersedia di sana. Terlepas dari semua itu, sesungguhnya monyet itu tidak perlu melakukan semua itu.
Hal yang sama terjadi pada pikiran kita. Batin kita mudah tersinggung pada masalah yang sangat kecil; masalahnya hanya kecil dan kita bawa masalahnya menjadi sangat besar dan kita menjadi lebih tegang terhadap masalah itu. Kenapa hal ini terjadi?
Ini terjadi karena kita mengekang diri dengan persepsi kita sendiri, dan juga karena kita tidak tahu bagaimana untuk bisa relaks. Selama ceramah saya tentang cinta kasih dan welas asih, saya mengilustrasikan bagaimana penempatan cangkir sebagai landasan kita membuat masalah kecil menjadi masalah besar.
Ketika bekerja, kita terikat pada masalah kecil dalam pekerjaan kita, dan masalah ini menguras semua perhatian kita sehingga kita menjadi lalai terhadap masalah besar. Ketika belajar, bila pikiran kita terlalu dicengkeram oleh pandangan-pandangan yang kita miliki sekarang, kita tidak akan mampu belajar dengan sangat baik karena tidak ada ruang lagi untuk menerima informasi baru. Ketika kita menyetir mobil, kita selalu berpikir orang di depan kita dan bagaimana cara kita untuk menyalipnya, serta terus berpikir bahwa waktu yang ada semakin mendesak. [Rinpoche memperagakannya sebagai orang yang begitu cemas dan tergesa-gesa]. Jika kita menyetir dengan sikap itu, maka kita akan rentan sekali mengalami kecelakaan; kita akan membelokkan mobil kita yang semestinya tidak harus kita belokkan dan waktu perjalanan menuju tempat tujuan pun akan bertambah lama.
Contoh lainnya; bagaimana kita bereaksi ketika melihat wajah kita sendiri. Banyak orang yang begitu hanyut dalam perasaan, dan menjadi begitu tegang melihat wajah mereka sendiri. [Rinpoche memperagakan kembali]. “Wajah saya harus bagus.” Kita melihatnya dengan begitu tegang dan membawa pikiran kita ke dalam cermin. Meskipun tidak ada yang salah pada wajahmu, namun jika kamu melihatnya dengan sikap seperti ini dalam tempo yang lama, alhasil kamu akan menemukan ada sesuatu yang salah di wajahmu. Kamu akan menemukan bahwa hidungmu sedikit bengkok, atau pipi kiri lebih besar daripada pipi kanan, atau hal-hal lain sejenisnya. Dan kamu akan merasa sedih dan tidak nyaman terhadap itu, dan akan lebih memokuskan hal ini menjadi sebuah “masalah”. Ditinjau dari segi persepsimu sendiri, “kekurangan” ini akan menjadi lebih besar, lebih besar dan lebih besar lagi. Setelah sebulan kamu melakukannya, ketika kamu bercermin melihat dirimu dan kamu akan berpikir, “Hidungku benar-benar tidak lurus,” meski sebenarnya tidak bengkok. Kamu akan merasa sangat malu dengan dirimu, dan kamu tidak mau keluar dimana ada orang melihatmu. Bahkan, mungkin kamu akan berhenti berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain karena kamu berpikir bahwa semua orang akan memperhatikan hidungmu yang bengkok, meskipun sesungguhnya mereka tidak memerhatikannya.
Walapun semua ini sama sekali tidak benar, dari persfektif persepsi kita sendiri, kita akan melihat diri kita sebagai seseorang yang tidak menarik, dan pada saat itu pikiran kita akan membuat berbagai masalah yang mana sebelumnya tidak ada masalah sama sekali. Kita harus mengerti bahwa inilah yang terjadi pada diri kita. Jika kita mengerti, inilah yang disebut sebagai pengetahuan benar, atau prajna [skt].
Begitu banyak hal serupa yang terjadi dalam pikiran kita dan tidak ada alasan baik untuk selain kejadian ini daripada menjadi kreasi dalam pikiran kita. Namun, kita selalu percaya pada pemikiran kita dan berpikir bahwa pemikiran kita adalah 100% benar.
Persepsi dibuat oleh pikiran, pikiran meyakini proyeksi dari pikiran sehingga ini menjadi siklus mata rantai. Inilah cara kerjanya, pikiran menjadi percaya pada persepsinya yang dibuatnya.
Batin yang Fleksibel
Ketika kita bermeditasi berdiam dalam keheningan, atau shamatha, kita membuat batin kita menjadi lebih fleksibel, dan dengan cara itu kita mendapatkan kontrol itu. Kita membawa kekuatan pada batin kita, seperti olahraga. Jika kita berolahraga dan juga mengonsumsi vitamin-vitamin, hasil yang akan diperoleh adalah tubuh kita menjadi sehat kuat secara alami. Bila kekuatan tubuh ini secara alami terbentuk dalam tubuh kita, maka penyakit yang sedang kita derita saat ini akan pergi dengan sendirinya dan tubuh sehat kita akan membantu mencegah timbulnya penyakit di masa mendatang.
Pendekatan olaharaga dan mengonsumsi vitamin ini jauh lebih baik daripada kita mengonsumsi obat ketika kita sakit, karena, sebagai contoh, jika kita makan obat untuk menyembuhkan penyakit yang berhubungan dengan paru-paru, obat ini dapat membebani hati dan ginjal kita. Jika kita makan obat untuk menyembuhkan ginjal, itu juga dapat menggangu bagian (organ) tubuh kita lainnya – obat-obatan dalam jangka panjang tidak membawa daya tahan dan kekuatan tubuh alami. Padahal daya tahan dan sehat alami sangat penting bagi tubuh. Begitu juga mengapa kita berlatih shamatha, berdiam dalam keheningan: untuk membangun kemampuan dan kekuatan yang menjadi bagian utama pada batin kita.
Lebih lanjut, ketika kita berlatih meditasi jenis ini, kita membangkitkan apa yang disebut sebagai “kedamaian batin”, kedamaian sejati yang tidak bergantung pada sebab dan kondisi eksternal. Jika kita berusaha untuk memperoleh kedamaian dengan bergantung pada sebab eksternal, maka usaha ini mirip dengan upayamu mengonsumsi obat agar dengan cepat sembuh dari penyakitmu.
Jika kita tiba-tiba terluka karena jatuhnya cangkir, dan mampu mengatasi situasinya, maka hal ini dapat membuatmu kembali merasa nyaman dalam tempo singkat. Tapi, jika cangkir itu membuat hancur, maka cangkir ini menyebabkan kita begitu menderita. Jika kita bermain GameBoy atau hiburan yang sejenisnya, untuk sementara waktu hal ini akan membuat kita senang. Tapi, jika kita terlalu melekat pada permainan ini, maka permainan ini dapat menjadi penyebab penderitaan kita ketika alat permainan ini rusak, dan kerusakan sebuah benda merupakan fenomena alami karena benda merupakan unsur dari fenomena.
Inilah alasan-alasan umum mengapa berlatih meditasi, shamatha begitu penting. Sangat penting untuk kita mengerti alasan-alasan umum ini sebelum kita belajar untuk mempraktikkannya.
Sebagai contoh, jika kita ingin menembak, kita perlu mengetahui apa dan di mana sasaran tembaknya. Jika tidak, kita tidak dapat mengarahkan peluru kita. Dalam hal latihan shamatha, ada 2 (dua) hal pokok : kunci utama pada tubuh dan kunci utama pada pikiran.
Tubuh dan Pikiran
Pada langkah awal dari tahapan meditasi, ketika kita tidak dapat mencapai realisasi level tinggi, tubuh dan pikiran kita saling berhubungan satu sama lainnya dalam hal dukung dan mendukung. Tubuh kita berfungsi untuk mendukung pikiran kita, dan begitu sebaliknya tubuh kita didukung oleh pikiran kita.
Jika kita bandingkan pandangan ini dengan apa yang ditemui oleh ilmuwan modern saat ini, akan ditemukan kesamaan.
Dalam Buddhisme, kita berbicara mengenai 3 (tiga) sifat berbeda yang menjadi unsur halus dari tubuh fisik, unsur yang berhubungan dengan meditasi kita. Ketiga unsur itu disebut sebagai prana (kanal), windu (energi halus), dan bayu – chi atau angin.
Ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai neuron, gelombang otak dan sel.
- Neuron ini serupa dengan prana (kanal)
- Gelombang otak serupa dengan energi halus – windu
- Sel-sel serupa dengan chi.
Sebagai tambahan, apa yang dikatakan oleh ilmu pengetahuan modern tentang proses yang terjadi di seluruh tubuh kita sama dengan penyajian pengetahuan secara Buddhis. Tubuh mirip dengan cangkir ini [Rinpoche mengangkat cangkir], dan batin mirip dengan air dalam cangkir ini. Sebelum kita memperoleh pembebasan, maka selama kita menggerakkan cangkir, air di dalam akan bergerak juga. Jika kita minum air ini, maka kita minum batin kita [tertawa].
Pada tingkatan ini, tubuh dan batin berjalan bersama, secara sinkron dan terus menerus. Tubuh kita berproses dari tingkatan tubuh kehidupan ini menuju tingkatan tubuh perantara (intermediary state), antara kematian dan kelahiran kita di kehidupan mendatang, dan kemudian ini menjadi tubuh pada kehidupan mendatang. Batin kita juga menjalani cara yang sama terus menerus seperti proses tubuh. Inilah penjelasan secara Buddhis.
7 Titik Postur Meditasi
Ada tujuh titik yang sangat penting pada postur tubuh saat kita bermeditasi, yakni:
1. Kaki
Titik utama postur pertama adalah kaki yang disilangkan – persis seperti posisi duduk kalian saat ini. Inilah adalah postur yang paling baik. Jika kamu dapat berpostur kaki “postur Vajra”, atau dikenal umum dengan postur teratai penuh, inilah postur kakimu yang terbaik saat duduk. Akan tetapi, kita juga harus memerhatikan tanda-tanda dari tubuh kita; jika kita merasa kesakitan ketika duduk dengan postur vajra dan kamu coba memaksakan dirimu dalam postur ini, sedangkan kita tidak mampu berpostur seperti itu, maka keadaan ini benar-benar membuat kita sangat menderita. Maka sebaiknya kita tidak berpostur seperti itu. Meskipun kita duduk dalam posisi kaki silang biasa (setengah teratai), tidak menjadi masalah untuk meneruskannya jika kaki kita hanya merasa nyeri. Kita juga dapat duduk di kursi.
2. Tangan
Titik utama postur ke-2 adalah meletakkan tanganmu dalam posisi seimbang, telapak tangan kiri disebelah bawah dan telapak tangan kanan ditaruh di atas telapak tangan kiri. Hal terpenting adalah mengistrahatkan tanganmu dalam keadaan relaks. Kita juga dapat menaruh telapak tangan kita di atas kedua lutut kita. Sebagian orang yang tangannya pendek dan jika meletakkan telapak tangan di kedua lutut sehingga kondisi menjadi tidak menyenangkan, maka mereka dapat menaruh tangannya sedikit lebih maju di atas paha.
3. Bahu
Titik utama postur ke-3 adalah merelakskan bahumu dengan nyaman. Akan ada ruang antara rusuk dengan lengan atas-mu. Jika kita merelakskan bahu kita dan meletakkan tangan kita di atas lutut, maka secara alami terdapat ruang terbuka antara lengan atas dengan daerah rusuk kita. Jika kita berpostur dengan tangan berada di atas pangkuan (sedikit di bawah pusar), kita dapat sedikit mengulurkan lengan atas sehingga ruang antara lengan atas dan rusuk kita sedikit terbuka. Ini mirip dengan sayap burung nasar.
Ketika dalam perjalanan saya di Prancis, dan suatu pagi ketika saya sedang berjalan di taman, saya lewat di depan seorang yang sedang duduk di taman. Dia mendorong keluar lengannya setiap beberapa detik. Lalu dia memandang dan mendekati saya, berbicara kepada saya dan bertanya apakah saya adalah seorang bhiksu Buddhist yang suka meditasi. Rinpoche jawab ya. Pria tersebut bertanya pada Rinpoche apakah Rinpoche mengalami kesulitan dalam bermeditasi, dan Rinpoche menjawab tidak, tidak ada masalah. Kemudian pria ini membalas, “Oke, saya merasa sulit ketika bermeditasi, karena kita harus menggerakkan tangan kita seperti ini [mengepak-ngepak lengan tangan], iya kan?“ Saya jawab, “Tidak, saya tidak pernah mendengar teknik itu, dari mana kamu belajar hal itu?” Pria ini mengatakan bahwa ia dapatkan teknik itu dari membaca buku. Lalu saya tanya ke dia, apa yang diuraikan dalam buku itu, dan pria itu mengatakan bahwa buku tersebut menyebutkan ketika bermeditasi tangan kita harus berbentuk seperti sayap burung nasar [peserta tertawa]. Mungkin ini karena burung Nasar di Tibet berbeda dengan burung Nasar di Prancis [tertawa]? Hanya bercanda.
4. Punggung
Titik utama postur ke-4 merupakan titik paling penting : duduk dengan punggung yang lurus. Kita seharusnya tidak membungkuk seperti ini [diperagakan]. Jika kita menjulur punggung secara berlebihan, maka kita akan jatuh ke arah belakang. Jadi, kita harus duduk dengan punggung yang lurus. Tidak masalah jika kita mencoba mencondongkan sedikit ke depan atau sedikit ke belakang, dan kita harus menjaga pikiran kita tetap relaks dan tidak terlalu tegang terhadap proses ini. Kita tidak perlu berusaha meraih kondisi yang lebih halus apakah dengan menelonjorkan dada ke depan atau ke dalam atau apapun sejenis itu.
5. Dagu (Rahang)
Titik utama postur ke-5 adalah dagu sedikit dimasukkan (didorong) masuk sehingga titik berat kepala terasa di dagu kita, biarkan dagu menyangga berat kepala kita. Kita biarkan berat kepala kita untuk beristrahat agar rahang/dagu kita perlahan sedikit menekan jakun kita. Jika kita ingin memutarkan kepala kita dari satu sisi ke sisi lain, maka kepala kita benar-benar siap untuk melakukannya. Sebagian orang memiliki kecenderungan untuk mendorong kepalanya ke belakang, atau ke depan (menunduk), atau memaling kiri-kanan atau apaun yang kamu lakukan, namun kita harus tetap mengarahkan kepala kita di tengah.
6. Mulut
Titik utama postur ke-6 adalah mulut kita yang harus relaks sedemikian rupa sehingga gigi bagian atas dan bagian bawah tidak saling bersentuhan dan bibir atas dan bawah juga tidak saling bersentuhan – ada sedikit ruang diantaranya. Kita dapat bernapas melalui mulut kita, bernapas melalui hidung atau bernafas melalui keduanya.
7. Mata
Titik utama postur ke-7 adalah mengistrahatkan mata kita sealami mungkin. Kita dapat berpandangan dengan sudut sedikit ke bawah, lurus ke depan ataupun sedikit ke atas. Sesungguhnya bergantian sudut pandangan dari waktu ke waktu akan jauh lebih baik. Jika kita mencoba bertahan dengan sudut pandangan pada tempat yang sama dalam tempo lama, ini akan membuat mata kita lelah, jadi dengan sesekali bergantian sudut pandangan akan dapat mempertahankan mata kita tetap segar. Dan boleh juga kita menutup mata kita ketika bermeditasi.
Non-meditasi
Penjelasan tentang postur tubuh ketika meditasi selesai.
Dari semua titik utama ini, yang terpenting adalah tetap ingat bahwa tubuh yang relaks merupakan kunci yang paling penting. Kita harus duduk dengan otot tubuh yang relaks. Oke, mari kita berlatih bersama, hanya melatih postur tubuh. Kita tidak perlu bermeditasi.
Duduklah dengan punggung lurus, relakskan semua bagian tubuhmu, dan relakskan juga pikiranmu. Kamu tidak perlu memikirkan hal-hal lain – kita hanya duduk dengan tubuh dan pikiran yang relaks. Kita sudah tidak berbicara mengenai meditasi lagi. Kita hanya duduk dengan tubuh dan pikiran yang relaks, persis seperti ketika kita baru menyelesaikan pekerjaan berat yang melelahkan. [Rinpoche membimbing seluruh peserta berlatih]
Bila kita menyelesaikan suatu pekerjaan atau olahraga yang berat, dan kita benar-benar bekerja keras, kita menjadi lelah, dan kita beristrahat dan merelakskan tubuh kita. Mari, duduklah dengan relaks seperti ini. [semua duduk].
Oke, selesai. Apa yang kalian rasakan? Apakah kalian dapat relaks? Bagus.
Ini adalah meditasi relaksasi. Tapi, tadi saya tidak menginstruksikan kalian untuk bermeditasi. Inilah disebut, non-meditasi adalah jenis meditasi tertinggi. Makanya kita tidak perlu bermeditasi. Kita hanya merelakskan tubuh dan merelakskan pikiran kita.
Kita sering mengalami keadaan relaksasi tubuh dan pikiran kita dalam keseharian hidup kita. Lalu, mengapa kita tidak memperoleh manfaat ketika keadaan ini terjadi? Karena kita tidak menyadari keadaan ini sedang terjadi. Barusan kita coba relaks sambil menyadari bahwa kita sedang relaks. Inilah yang dinamakan perhatian murni. Maka dari itu, jika kita relaks, perhatian murni harus muncul bersamanya. Biasanya, kita melepaskan lelah kita dan selanjutnya kita relaks, tapi kita tidak menyadari bahwa kita sedang relaksasi – perhatian kita selalu tertuju hal luar, mencari hal-hal lain.
Di sini kita merelakskan tubuh dan pikiran kita sambil menyadarinya bahwa kita sedang melakukan relaksasi. Dengan menyadari bahwa kita sedang relaksasi ketika kita berelaksasi, kita dapat mengambil kendali atas pikiran kita. Jadi, ini mudah kan? Ini sangat mudah. Kamu tidak perlu melakukan apapun. Kamu tidak perlu bermeditasi. Kamu tidak perlu membuat sesuatu. Kamu tidak perlu berusaha keras. Jadi ini lebih mudah daripada tidur! Ketika mau tidur, kita perlu menyiapkan tempat tidur dan memastikan terdapat bantal yang enak dan baru kemudian kita berbaring dan beristirahat.
Ketika kita merelakskan dengan cara begini, apa yang terjadi pada pikiran kita? Pikiran kita relaks dan menyenangkan tapi kita tetap tidak dapat mengenalinya; kita tidak dapat menunjuk pada pikiran kita dan berkata “ini adalah pikiranku yang relaks” atau “ini adalah pikiranku yang menyenangkan.” Ini adalah teknik meditasi yang telah diuraikan yang disebut meditasi shamatha atau berdiam dalam keheningan tanpa objek.
Bagi pemula mungkin tidak mengalami jenis meditasi ini untuk waktu lebih dari 2, 3, atau 5 detik, tapi ini sudah bagus. Kita harus berlatih dalam kuantitas kecil dan berulang-ulang. Jika kita menyediakan wadah yang sangat besar dan meletakkannya di tempat penampungan air hujan, tetesan air yang jatuh akhirnya akan membuat wadah air ini penuh. Hal yang sama, jika kita berlatih dalam kuantitas kecil – berulang kali, meditasi kita akan berkembang. Kita tidak boleh berpikir dengan pemikiran seperti “Saya butuh duduk dalam waktu yang lama”, “Saya perlu menghentikan pemikiran-pemikiranku”, karena pemikiran akan tetap muncul dan kita tidak dapat menghentikannya. Kita tidak dapat menembak pemikiran kita, kita tidak dapat membakar pemikiran kita, dan meskipun kita menyiapkan sebuah bom, semua ini tidak dapat menghentikan pemikiran-pemikiran kita. Inilah sifat dasar dari pikiran. Kita tidak perlu menghentikan pemikiran.
Apa yang perlu kita lakukan? Yang kita perlu adalah perhatian murni. Kunci dasar dari meditasi shamatha adalah perhatian murni, atau, dengan kata lain, kesadaran.
Inilah mengapa kita dapat mengatakan bahwa ketika perhatian murni muncul, maka itulah shamatha, inilah meditasi; namun ketika tidak terdapat perhatian murni, maka tidak ada meditasi. Kita tidak mengatakan bahwa ketika ada pemikiran, maka itu bukan meditasi, dan ketika tidak ada pemikiran, maka itu meditasi; bukan seperti demikian. Kuncinya adalah apakah di sana ada perhatian murni atau tidak.
Jadi, meditasi dengan cara ini adalah sangat mudah sekali, tapi hanya ada 1 (satu) kesulitan : karena ini sangat mudah, maka ini menjadi sulit. Ini sulit karena kita tidak mempercayainya. Kita selalu berpikir bahwa meditasi harus berhubungan dengan sesuatu yang sangat istimewa. [Rinpoche memeragakan bentuk “blessed out” yang lucu] Relakss… Damaii…… Terbukaa… Indah…… Ini bukanlah meditasi
Pengharapan kita pada meditasi membelenggu pikiran kita. Karena cara meditasi ini begitu dekat dengan diri kita, maka membuat kita tidak mampu melihatnya. Hal ini mirip dengan contoh cangkir yang saya pegang. Jika cangkir ini saya angkat di depan mata kita, kita tidak mampu melihat/membaca bagian detil pada cangkir. Meditasi mirip seperti itu. Oleh karena itu, bagi pemula, akan agak lebih mudah untuk bermeditasi dengan jenis yang sedikit lebih sulit.
Meditasi
Sekarang saya akan memberimu metode meditasi yang lebih sulit [tertawa]. Meditasi ini berhubungan dengan jenis-jenis kesadaran yang kita miliki. Dalan ajaran Buddhisme ada 6 (enam) jenis kesadaran :
1. Kesadaran mata untuk melihat bentuk
2. Kesadaran telinga untuk mendengar suara
3. Kesadaran hidung untuk mencium
4. Kesadaran lidah untuk merasakan
5. Kesadaran tubuh untuk menerima sentuhan
6. Kesadaran mental untuk menerima pemikiran
Alasan mengapa semua bentuk gangguan pikiran, penderitaan kita dan sikap batin seperti monyet, terjadi karena keenam kesadaran ini memiliki enam peranan masing-masing.
Kita tahu caraa kerjanya, dari hanya sebuah persepsi mengenai bentuk, kemelekatan kita muncul, kita menjadi marah, cemburu, takut, dan semua jenis emosi yang menganggu. Contoh sederhana: jika kita menyapa seseorang dengan “He-hey!” dan orang tersebut membalas kembali “He-hey” pada kita, maka kita akan merasa bahagia. Namun, jika kita menyapa, “He-hey” dan orang tersebut menatap kita dan berwajah cemberut, maka ini akan membuat kita sedih dan tidak nyaman, dan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi kita.
Hal ini terjadi pada objek bentuk, dan hal sama juga terjadi pada suara. Ketika seseorang mengatakan, “Kamu baik!” ini akan membuat kita bahagia; jika seseorang mengatakan, “Kamu jelek” maka ini akan membuat kita sedih. Hal yang sama pada rasa: ketika mencicipi makanan enak, ia akan membuat perasaan kita senang dalam batin kita; dan ketika kita mencicipi makanan tidak enak, itu akan membuat batin kita sedih.
Apa yang terjadi jika kita makan cabe yang pedas? Apakah cabe pedas itu enak atau tidak? [Jawaban yang berbeda dari peserta; Rinpoche tertawa.] Berapa orang yang berpikir bahwa cabe pedas itu enak, silahkan angkat tangan kalian. Ah, saya juga. Berapa orang yang berpikir bahwa cabe yang pedas tidak enak? Cabe yang pedas sendiri tidak dapat mengatakan apapun mengenai dirinya apakah enak atau tidak; cabe yang pedas ini tergantung pada orang yang mencicipinya. Sesungguhnya respon kita terhadap semua hal di dunia ini sama – baik atau buruk diciptakan oleh pikiran kita masing-masing.
Jika sifat enak – tidaknya sudah berada di dalam cabe pedas itu sendiri, maka setiap orang akan merasakan rasa yang sama. Jadi, jika cabe pedas bener-benar ada dalam bentuk “enak”, lalu tiap orang yang memakannya akan memperoleh rasa enak. Namun karena sifatnya tidak bersama cabe itu sendiri, maka cabe akan terasa enak bagi sebagian orang, dan yang lain akan merasakan tidak enak. Begitu juga dengan bau-aroma, objek yang dapat diraba, dan sebagainya.
Sebagian orang ketika mereka terbenam dalam meditasinya akan menganggap pemikiran yang muncul dari objek yang terlihat, suara yang terdengar, aroma yang tercium, dan seterusnya, sebagai pemikiran yang menganggu meditasi mereka, sebagai musuh dalam meditasi. Namun, bagi mereka yang benar-benar memahami esensi dasar dari meditasi, semua fenomena pikiran tersebut dapat menjadi pendukung dan penyokong meditasinya. Marilah memandang pemikiran-pemikiran yang muncul tersebut dari persfektif yang dapat mendukung meditasi kita.
Meditasi dengan Objek Bentuk
Pertama, dengan memerhatikan bentuk, mata kita melihat dua jenis benda: bentuk-bentuk dan warna-warna. Akan sangat baik jika memulai memerhatikannya dengan objek yang kecil. Kita dapat melihat objek yang sangat kecil dan pada saat yang sama ketika mata kita melihat objek tersebut, pikiran harus juga melihat objek tersebut. Jika pikiran kita dapat melihat objek tersebut, inilah yang disebut sebagai shamatha berobjek.
Kita tidak butuh apapun yang lain karena mata kita 100% sedang melihat objek. Kita tidak perlu mencoba untuk melihat sampai 200%. [Rinpoche mengangkat tangan Beliau]. Kamu melihat tangan saya. Meski kita menatap penuh selama 1 jam, dapatkah sepenuhnya pikiran kita melihat tangan ini selama 1 jam? Jika pikiran kita dapat melihat tangan ini, maka proses melihat ini menjadi [meditasi] shamatha. Ini mudah kan? Kita tidak perlu bermeditasi pada tangan kita. Kita tidak perlu menvisualisasikan tangan kita dalam pikiran kita, atau binggung tangan itu seperti apa. Kita hanya melihatnya saja. [Rinpoche mendemonstrasi dengan memutar tangannya dan mengatakan “tangan” berada di setiap tempat.]
Meditasi bagi pemula seperti seekor katak – ia melompat dari satu tempat lalu pergi ke sisi yang lain, lalu balik lagi ke sisi lain, kemudian balik lagi dengan arah yang berbeda. Kita menfokuskan pikiran kita pada objek tertentu dan sebenarnya pikiran fokus pada objek tersebut tapi kemudian pikiran ini kabur lagi ke sesuatu lain, kemudian kembali lagi fokus pada objek tersebut, pergi lagi ke sesuatu lainnya. Kita tidak perlu memegang erat pikiran tersebut atau mengerahkan seluruh energi ke pikiran kita untuk mencoba dan membawa pikiran menjadi fokus. Kita hanya perlu melihat saja.
Kita berusaha untuk melihat suatu objek dengan pikiran kita untuk beberapa saat dan kemudian pikiran pergi keluar jalan-jalan di kota Halifax. Kita bawa kembali pikiran tersebut, dan pikiran melihat kembali objek tersebut untuk beberapa waktu, dan kemudian “ia” kembali ke rumah untuk beberapa menit, dan kemudian kita bawa “ia” balik untuk melihat objek tersebut lagi dan beginilah cara bermeditasi bagi pemula. Kita hanya terus membawa pikiran tersebut balik agar ia fokus lagi terhadap objek tersebut secara berulang kali. Ini seperti latihan olahraga.
Jika kita berlatih seperti ini, perhatian murni kita akan semakin kuat dan kuat. Melihat suatu bentuk, pikiran kita dapat memperlama jangka waktu untuk melihat.
Sekarang kita dapat berlatih jenis meditasi ini bersama. Kamu bisa memilih objek apa pun yang dapat kamu temui. Jika kamu mau, kamu dapat memandang bagian belakang kepala orang yang duduk di depanmu. Kamu tidak perlu berpikir, “Oh, jenis rambut apa yang dia miliki, bagaimana dia bisa keluar rumah dengan berambut seperti itu” atau “Sebenarnya orang ini tidak memiliki rambut yang lebat.” Kamu tidak perlu berpikir seperti itu.
Pertama, relakskan pikiranmu. [berhenti sebentar]
Sekarang lihatlah bentuk. [berhenti sebentar]
Sekarang, tanpa secara khusus memandang bentuk, lanjutkan dudukmu dengan pikiranmu yang relaks. [semua berlatih.]
Bila kita mengambil bentuk sebagai objek meditasi kita dengan cara ini, maka ada 4 hal yang dapat terjadi yang membuat kita tidak nyaman.
1. Objek yang kita lihat berkembang menjadi 2 objek.
2. Persepsi kita mengenai objek menjadi kabur sehingga kita tidak mampu melihat objek tersebut dengan jelas lagi.
3. Segala sesuatu mulai bergerak sehingga objek tersebut tidak diam, kepala seperti sedang pusing/pening.
4. Mata kita mungkin mulai sakit, seolah-olah benar-benar ada benda/partikel sejenis masuk ke mata kita yang membuat mata kita sakit.
Tidak ada yang salah dengan 4 (empat) kejadian ini; kita hanya perlu lanjutkan melihat apa saja yang muncul oleh mata kita. Jika kita melihat ada dua objek yang muncul bersamaan, kita dapat terus melihatnya, tapi pada keduanya.
Bila kita berlatih dengan cara ini, akan baik jika jenis meditasi yang telah kita lakukan dilatih secara silih berganti, sesekali melihat bentuk, sesekali tidak melihat bentuk secara spesifik tapi hanya duduk dengan pikiran yang relaks dan kembali lagi ke objek dan seterusnya bergantian. Jika kita menjadi letih melihat bentuk, duduk saja dengan relaks. Jika kita menjadi letih atau bosan dengan duduk relaks, lalu lihatlah bentuk.
Apakah ada pertanyaan mengenai teknik meditasi dengan objek bentuk?
Meditasi dengan Objek Suara
Sekarang kita akan bermeditasi dengan teknik yang berhubungan dengan suara. Dapatkan kamu mendengar suara-suara? Suara apa? Apakah ada suara yang berasal dari langit-langit? Kita akan meditasi bersama dan perhatian kita tujukan pada apa yang kita dengar – boleh suara apa pun, tidak masalah suara apa yang terdengar. Kita tidak perlu fokus pada satu suara. Kita hanya memeriksa dengan pemikiran, “Apa yang sedang telinga saya dengar?” Kita buka pendengaran kita. Jika kita tidak mendengar suara tertentu apa pun, maka ini dapat menjadi shamatha tanpa objek, dan kemudian bila kita memberikan perhatian pada kesadaran pada apa yang kita dengar, ini menjadi shamatha berobjek. Bila mempraktekkan jenis meditasi dengan objek suara ini, ada 2 (dua) hal yang mungkin terjadi yaitu jenis shamatha yang silih berganti - shamatha berobjek dan shamatha tanpa objek.
Pertama, duduklah dengan pikiran yang relaks. [berhenti sebentar]
Sekarang dengarlah suara. [berhenti sebentar]
Sekarang relakskan pikiranmu. [berhenti sebentar]
Bila kita melakukan latihan melihat bentuk dan pikiran kita melihatnya juga, mendengar suara dan pikiran kita mendengarnya juga – ketika pikiran kita juga melihat bentuk dan mendengar suara – kita sedang berlatih perhatian murni dan sedang mengembangkan perhatian murni kita. Semakin mampu pikiran kita untuk tetap bertahan pada objek persepsi, perhatian murni yang terbentuk akan semakin kuat dan lebih berkembang. Selama latihan seperti ini terus dilanjutkan, pikiran kita menjadi semakin jinak, lebih damai, dan lebih bahagia dan ceria. Kita bangkit mengambil kendali pikiran kita dan kita memperoleh batin kita yang lebih halus – batin kita menjadi lebih fleksibel.
Tanya : Saya mendengarkan detak jam dan suara udara yang bergerak melalui ventilasi. Saya heran mengapa saya tidak dapat mendengar satu suara saja. Saya perhatikannya sebagai 2 suara yang berbeda. Meski pikiran saya ingin sekali mendengar setiap suara sebagai 1 suara, saya selalu memilah suara-suara berbeda yang terdengar, dan itu tidak sekalipun terjadi.
Rinpoche : Ini tidak bermasalah. Kamu tidak perlu mencerna setiap yang telinga kamu dengar sebagai satu jenis suara. Kamu hanya memberikan perhatian pada salah satu suara apapun yang lebih menarik untuk didengar atau apapun suara yang kedengaran paling jernih atau paling jelas. Kamu hanya duduk di sana dengan telinga yang terbuka, tanyain dirimu apa yang telingamu dengar. Suara apa pun yang muncul lebih jelas atau suara apa pun yang lebih menarik bagimu, kamu hanya perlu mendengar suaranya dengan batinmu.
Kadang-kadang ini terjadi, meski ada suara, kamu tidak mampu mengindentifikasinya sebagai suara yang khusus. Ini adalah suara [Rinpoche menggesekkan mikropon untuk menghasilkan suara] namun kamu tidak mampu mengidentifikasi suara tersebut sebagai suara yang khusus. Ini juga tidak masalah. Ini dapat dijadikan sebagai shamatha tanpa objek, dan bila hal ini terjadi, itu juga baik.
Khususnya, jika kamu senang dengan meditasi pada shamatha tanpa objek, dan sebagainya, sebenarnya ini dapat meningkatkan meditasimu. Kamu akan mendapati bahwa saat kamu berlatih meditasi tanpa objek akan terasa lebih baik daripada usahamu yang lazim pada shamatha tanpa objek. Bagi siswa yang lebih senior yang telah menerima instruksi lisan (pointing out instructions), mengenali sifat alami pikiran akan semakin jelas saat ini ketika mereka tidak dapat mengidentifikasi suaranya.
Tanya Jawab
T : Apa perbedaan antara mendengar kuliah atau percakapan ketika Anda fokus pada telingamu dan pikiranmu secara bersamaan pada suara itu dibanding dengan ketika Anda hanya fokus pada telingamu ketika melakukan meditasi shamatha?
R : Perbedaan utama adalah apakah kamu menyadari atau tidak bahwa kamu sedang bermeditasi. Jika kamu mendengar ceramah dan mendengar suara dari guru untuk membantu perhatian murnimu, dan kamu sadar bahwa kamu sedang menggunakan suara sebagai pendukung perhatian murni, dan kamu relaks dan memberikan perhatian pada pikiranmu saat itu, dan kamu sadari bahwa inilah apa yang sedang kamu lakukan, maka ini merupakan meditasi. Namun bila kamu tidak melakukan seperti itu, jika kamu mendengarnya tanpa bertujuan untuk mendukung perhatian murnimu dan hanya mendengar kata-kata, lalu ini tidak berbeda dengan kamu mendengarkan seseorang berbicara dengan cara yang biasa. Inilah perbedaannya: apakah disana ada perhatian murni atau apakah disana tidak ada perhatian murni.
Biasanya bila kita mendengar suara, kita kehilangan kontrol diri kita. Namun bila kita berlatih jenis meditasi objek suara ini, kita tidak kehilangan diri kita.
T : Apakah Anda mengajarkan meditasi pada indera perasa?
R : Ya. Besok saya akan mengajarkan merasa, menyentuh dengan pikiran.
T : Anggap bahwa jika saya berencana mulai bermeditasi tiap harinya, berapa lama saya harus melakukannya sebagai seorang pemula?
R : Kamu dapat meninjau dan melakukannya berdasarkan jadwalmu dan lihat seberapa banyak waktu yang kamu miliki untuk digunakan, tapi jika kamu dapat memulainya dengan duduk selama sejam merupakan hal yang baik. Dan juga, bila kamu mulai bermeditasi, hal terpenting adalah kamu tetap menjaga perhatian murni dari satu momen ke momen lain senormal mungkin. Sebagai contoh, jika kamu sedang minum air, kamu angkat penutup gelas dari cangkir dan berikan perhatianmu pada itu. Lalu beri perhatianmu pada menaruh tutup cangkir tersebut. Angkat lagi tanganmu, beri perhatian pada tanganmu, dan ketika mengangkat cangkir beri perhatianmu pada proses mengangkat cangkir tersebut. Lalu beri perhatian pada rasa, dan tahu bahwa kamu menaruh kembali cangkir itu. Beri perhatian dan ketahui apa yang sedang kamu lakukan pada hal yang sama.
T : Terima kasih.
R : Terima kasih kembali. Pemula perlu melakukannya secara relaks. Namun bila kamu sudah lebih terampil, kamu dapat melakukannya dengan cepat dan masih tetap ada perhatian murni. Kamu dapat memiliki perhatian murni pada saat melakukan hal tersebut. Ketika kita mengaplikasikan meditasi kedalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak perlu menjadi seperti robot.
T : Rinpoche, saya pernah mendengar Ringu Tulku Rinpoche memberi nasihat pada seorang wanita yang terganggu karena suara gonggongan anjing untuk memnon-aktifkan (menghentikan) kedua telinganya [Rinpoche tertawa].
R : Jika kamu dapat memnon-aktifkan telingamu dengan pikiran, maka ini sangat bagus. Cara terbaik untuk melakukannya adalah jadikan pikiranmu agar tidak berpikir suara tersebut sebagai musuh tapi pikirkan suara itu sebagai teman. Jika pikiranmu dapat berpikir suara itu sebagai teman, maka cara ini sama dengan kamu memnon-aktifkan kedua telingamu.
Ada sebuah cerita yang terjadi lama sekali. Seorang musisi terkenal dari India, seorang pemain gitar yang handal, diundang oleh banyak orang untuk melakukan pertunjukan di berbagai tempat. Pria ini pernah melakukan perjalanan di wilayah India selama 6 bulan. Ketika dia kembali ke rumahnya, dia menemukan istrinya telah menjalani hubungan dengan laki-laki lain. Ketika pria ini mengetahui hal ini, dia dan istrinya terlibat pembicaraan panjang [tertawa].
Diakhir perdebatan tersebut, pria ini menetapkan bahwa dia akan menyerahkan semuanya dan pergi keluar untuk meditasi. Dia berikan semua yang dimilikinya ke istrinya, dan pergi ke gunung hanya membawa gitarnya.
Dalam perjalanan menuju gunung, pria ini melihat seorang yogi sedang bermeditasi dalam gua. Rambut yogi ini ditambat berbentuk jambul, dan dia menggunakan anting-anting berhiaskan tulang besar. Yogi ini menatap lurus keluar ruangan. Lelaki ini melihat yogi ini dan menjadi sangat terinspirasi dengan keyakinannya. Dia mendekati yogi tersebut dan meminta yogi ini memberikan instruksti meditasi. Yogi ini memiliki perut yang agak besar.
Guru tersebut mengajarkan bagaimana bermeditasi kepada musisi muda itu. Dia berkata, “Duduklah dengan pikiran yang relaks.” Pria ini menerima instruksi ini dari guru dan menuju tempat meditasi di sebelah kanan yogi tersebut bermeditasi.
Pria ini berusaha berlatih dari instruksi yang diterimanya, duduk dengan pikiran yang relaks. Namun, dia tidak dapat melakukannya sama sekali – pikirannya dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran. Terutama dia tidak dapat berhenti memikirkan gitarnya.
Adakalanya dia ingin duduk di sana dan bermeditasi, lalu kemudian pikirannya muncul tentang gitarnya. Akhirnya dia menyerah dan mengambil gitarnya dan bermain sejenak. Namun dia berkata, “Tidak, ini adalah rintangan untuk meditasiku,” dan menaruh gitarnya di samping dan berusaha untuk duduk tapi timbul lagi pikiran yang kacau.
Hari selanjutnya dia menemui kembali yogi dan menyampaikan, “Guru agung, saya memiliki karma yang begitu buruk! Saya tidak punya karma untuk bermeditasi, saya tidak dapat melakukannya. Mohon berilah petunjukmu.” Lama ini mengatakan, “Apa masalahmu?” Musisi ini menjawab, “Karena saya telah mengumpulkan karma buruk melalui permainan gitar, saya tidak dapat melepaskannya dari pikiranku. Semua yang terpikirkan adalah mengenai keinginan bermain gitar.” Lama mengatakan, “Sama sekali tidak ada masalah! Saya akan memberimu metode baru.”
Lama mengajari pria ini metode meditasi yang mana dia dapat fokus pada suara gitar, dan pria ini sangat bahagia menerima petunjuk itu. Dia kembali ke gubuk meditasinya dan bermeditasi sambil bermain gitarnya. Titik permulaan sesinya adalah ketika dia mulai bermain gitar. Setelah hampir 7 tahun, dia menjadi seorang Mahasiddha agung.
Dia benar-benar menjadi mahasiddha, dan saya harap ini juga terjadi pada kalian juga. Kamu dapat berlatih dengan komputermu, atau mungkin dengan telepon atau mobil.
T : Apa yang terjadi pada istrinya?
R : Wanita tersebut mendapatkan suami baru yang baik dan rumah baru yang bagus. Karena semua yang dimiliki pria musisi ini diberikan semuanya kepada wanita itu.
[Pelimpahan jasa kebajikan]
==============================================
Sumber : http://mingyur.org
The Very Venerable Yongey Mingyur Rinpoche
Meditation and Non-meditation – Talk One
Halifax Shambhala Center, Nova Scotia Canada, January 27, 2004
Penterjemah ceramah : Tyler Dewar
Ditulis ulang (Inggris) : Ben Trembley
Editor B.Inggris : Judith Smith
Terjemahan ke Indonesia : Endrawan – Oktober 2008 (untuk kalangan pribadi)
===============================================